Waspada Penyakit ‘Ain: Bahaya Pandangan Hasad dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an serta Hadis
BOGOR, iNewsBogor.id – Di tengah maraknya unggahan kehidupan pribadi di media sosial, pembahasan tentang penyakit ‘ain kembali ramai diperbincangkan. Dalam khazanah Islam, ‘ain diyakini sebagai dampak buruk yang muncul akibat pandangan yang disertai rasa hasad atau kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah. Lalu, apa sebenarnya ‘ain dan bagaimana penjelasannya menurut Al-Qur’an dan hadis?
Secara bahasa, ‘ain berarti “mata”. Dalam istilah syariat, ‘ain merujuk pada pengaruh buruk yang timbul dari pandangan mata yang dilandasi iri, dengki, atau kekaguman tanpa keberkahan doa.
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah meyakini bahwa ‘ain adalah sesuatu yang nyata. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Al-‘ainu haqq (Penyakit ‘ain itu benar adanya).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa ‘ain bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari perkara gaib yang diakui dalam Islam.
Walau tidak disebut secara eksplisit dengan istilah “penyakit ‘ain”, sejumlah ayat Al-Qur’an dipahami para ulama berkaitan dengan fenomena ini.
Surah Al-Falaq ayat 5
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Ayat ini menegaskan bahwa hasad atau dengki memiliki dampak buruk yang nyata sehingga umat Islam diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan tersebut.
Surah Al-Qalam ayat 51
“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka…”
Sebagian mufasir menjelaskan ayat ini sebagai indikasi adanya pengaruh pandangan yang membahayakan.
Menurut para ulama, ‘ain terjadi ketika seseorang memandang sesuatu dengan rasa iri atau kagum berlebihan tanpa mengucapkan doa keberkahan seperti:
“MasyaAllah, tabarakallah.”
Rasulullah SAW pernah menegur sahabat yang tanpa sengaja menyebabkan saudaranya jatuh sakit karena pandangan kagum tanpa doa. Dalam riwayat disebutkan beliau bersabda:
“Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Mengapa tidak mendoakan keberkahan baginya?”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan pentingnya adab ketika melihat sesuatu yang mengagumkan.
Secara umum, ‘ain diyakini dapat berdampak pada:
Kondisi kesehatan yang tiba-tiba menurun tanpa sebab medis jelas
Perubahan emosi mendadak
Rasa tidak nyaman atau kegelisahan
Gangguan pada anak kecil seperti menangis tanpa sebab jelas
Namun penting dipahami, Islam tidak mendorong umatnya menuduh sembarangan. Setiap penyakit tetap harus diperiksa secara medis. Keyakinan terhadap ‘ain tidak boleh menggantikan ikhtiar rasional dan pengobatan.
Islam mengajarkan beberapa langkah perlindungan:
Membaca Surah Al-Falaq dan An-Naas secara rutin.
Memperbanyak dzikir pagi dan petang.
Mengucapkan doa keberkahan saat melihat sesuatu yang baik.
Tidak berlebihan memamerkan nikmat di ruang publik.
Rasulullah SAW juga mengajarkan ruqyah syar’iyyah sebagai bentuk perlindungan diri.
Di era media sosial, potensi hasad semakin terbuka. Gaya hidup yang dipamerkan tanpa batas dapat memicu iri hati orang lain. Para ulama mengingatkan pentingnya menjaga niat, kesederhanaan, dan tidak berlebihan dalam menampilkan nikmat.
Karena sejatinya, setiap nikmat adalah amanah. Menjaganya bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi juga perlindungan spiritual.
Penyakit ‘ain dalam Islam adalah sesuatu yang diakui keberadaannya berdasarkan hadis sahih dan pemahaman para ulama terhadap Al-Qur’an. Meski demikian, umat Islam tetap diwajibkan berikhtiar secara medis dan tidak mudah menuduh.
Yang terpenting, menjaga hati dari hasad dan membiasakan doa keberkahan adalah benteng utama. Sebab pada akhirnya, perlindungan terbaik hanya datang dari Allah SWT.
Editor : Ifan Jafar Siddik