get app
inews
Aa Text
Read Next : IPB University Libatkan Mahasiswa dalam Penanganan Kasus Pelecehan Seksual

IPB University Bangun Jejaring Global Petani dan Nelayan untuk Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Selasa, 21 April 2026 | 15:22 WIB
header img
IPB University bersama petani, nelayan, dan akademisi dari berbagai negara dalam forum Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA) di Bogor, Senin (21/4/2026). Foto: iNewsBogor.id/ Ifan Jafar Sidik

BOGOR, iNewsBogor.idIPB University memperkuat kolaborasi internasional antara petani, nelayan, dan akademisi guna menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata di sektor pertanian dan pesisir. Upaya ini diwujudkan melalui forum Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA) yang digelar pada Senin (21/4/2026).

Perubahan iklim kini menjadi tantangan serius bagi sektor agromaritim. Cuaca ekstrem, musim yang tidak menentu, hingga kekeringan dan peningkatan suhu telah berdampak langsung pada produksi pertanian dan hasil tangkapan nelayan. Berdasarkan Buku Putih Survei Persepsi Petani 2024, sebanyak 77,6 persen petani mengaku mengalami penurunan hasil akibat perubahan iklim.

Ketua panitia GNAA, Roza Yusfiandayani, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kondisi yang sudah dirasakan saat ini oleh para pelaku sektor pertanian dan perikanan.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realita yang dihadapi setiap hari oleh petani dan nelayan. Melalui jejaring internasional ini, kami ingin memperkuat ketahanan mereka berbasis kearifan lokal demi mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor agromaritim,” ujarnya.

Forum ini diikuti oleh perwakilan petani, nelayan, dan akademisi dari tujuh negara. Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan ini juga membuka peluang pertukaran pengalaman dan pengetahuan dalam menghadapi tantangan lintas negara.

Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB, Handian Purwawangsa, menyebut kolaborasi ini penting untuk memperkuat ketahanan pangan global.

“Kolaborasi ini memberikan ruang bertukar pengalaman dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan lintas negara. Dengan semangat regional dan kearifan lokal, kita optimistis mampu menghadapi tantangan di sektor agromaritim,” kata Handian.

Dalam kesempatan tersebut, IPB juga meluncurkan Buku Putih Perubahan Iklim, yang menjadi dokumen strategis berisi pemikiran kolektif pelaku sektor agromaritim dalam menghadapi krisis iklim global.

Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menegaskan komitmen institusinya dalam memperkuat riset, inovasi, serta pengabdian masyarakat melalui kolaborasi global.

“IPB berkomitmen meningkatkan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat di sektor agromaritim. Forum ini menjadi wadah kolaborasi untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, geopolitik, hingga resesi ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan petani perempuan dari Gunung Kidul, Parjiyem, mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim semakin dirasakan di tingkat lapangan.

“Sekarang bertani semakin sulit. Cuaca tidak menentu, kesuburan tanah menurun, dan air semakin sulit. Forum ini menjadi ruang penting untuk saling belajar dengan petani dari negara lain,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen nyata, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara petani, nelayan, dan akademisi dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi di sektor agromaritim dalam menghadapi perubahan iklim.

Editor : Ifan Jafar Siddik

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut