Unpar Buka Kampus di Bogor, Siapkan 2 Prodi untuk Kebutuhan Industri dan Pembangunan
BOGOR, iNewsBogor.id – Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memperluas layanan pendidikan tinggi dengan membuka kampus di Jalan Kapten Muslihat, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Kampus baru ini menghadirkan dua program studi, yakni Arsitektur dan Smart Green Industrial Systems, dengan perkuliahan yang ditargetkan mulai September 2027.
Pembukaan kampus tersebut menjadi langkah Unpar untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menjajaki kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah dan kebutuhan sumber daya manusia di tengah perkembangan teknologi.
Rektor Unpar, Prof. Tri Basuki Joewono, mengatakan pengembangan kampus di Bogor merupakan bagian dari komitmen universitas untuk menghadirkan manfaat pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurut Tri, Unpar yang telah berkiprah selama lebih dari tujuh dekade ingin memastikan keberadaan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga memberikan dampak bagi lingkungan sekitarnya.
“Unpar umurnya 71 tahun dan akan 72 tahun sejak didirikan. Kami ingin memberikan pelayanan agar pendidikan tinggi bisa memberikan dampak nyata,” ujar Tri Basuki seusai peresmian kampus Unpar Bogor.
Di kampus Bogor, Unpar membuka program studi Arsitektur dan Smart Green Industrial Systems melalui skema Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU). Kedua program tersebut sebelumnya telah tersedia di kampus utama Unpar di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.
Tri menjelaskan, kedua program studi itu dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan pengembangan wilayah dan tantangan industri ke depan. Arsitektur berkaitan dengan perencanaan ruang dan pembangunan kawasan, sedangkan Smart Green Industrial Systems berfokus pada teknologi industri dengan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Ia menyebut kedua program studi tersebut telah memiliki akreditasi unggul dan akreditasi internasional.
“Unpar memiliki program studi yang siap memberikan pelayanan pendidikan tinggi dalam dua bidang, yaitu arsitektur dan teknik industri. Kami melihat dua bidang ini dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan potensi yang ada di Kota Bogor,” katanya.
Setelah peluncuran kampus, Unpar mulai memperkenalkan kedua program studi kepada masyarakat dan calon mahasiswa. Untuk angkatan pertama, universitas memperkirakan jumlah mahasiswa sekitar 30 hingga 40 orang pada masing-masing program studi.
Jumlah penerimaan mahasiswa akan dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan penyelenggaraan pendidikan dan kebutuhan mahasiswa.
Selain menghadirkan pilihan pendidikan tinggi, Unpar membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Bogor untuk mendukung pengembangan potensi daerah.
Tri mengatakan, pemilihan Bogor juga memiliki keterkaitan dengan sejarah pendirian Unpar. Salah satu pendiri universitas tersebut merupakan Uskup Bogor. Kehadiran kampus di kota ini, menurut dia, menjadi upaya untuk mendekatkan kembali Unpar dengan akar sejarahnya.
Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengenai peluang keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan kota.
“Kami ingin hadir ke akarnya, yaitu di Bogor. Kami sudah berdiskusi dengan Pak Wali Kota untuk melihat bagaimana Unpar bisa terlibat mengembangkan apa yang sudah dimiliki Kota Bogor menjadi lebih besar,” ujarnya.
Peluang kerja sama juga terbuka di sektor pendidikan. Tri menyebut Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpar memiliki tujuh program studi yang berpotensi menjadi bagian dari pengembangan kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun perguruan tinggi lain di Kota Bogor.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyambut pembukaan kampus Unpar dan menilai kedua program studi tersebut relevan dengan kebutuhan pembangunan serta perkembangan teknologi.
Menurut Dedie, kompetensi di bidang arsitektur tetap dibutuhkan seiring dengan perencanaan dan pembangunan berbagai fasilitas maupun kawasan di Kota Bogor.
“Dua program studi ini akan dibutuhkan untuk masa depan. Arsitektur akan tetap diperlukan sampai kapan pun, termasuk di Bogor,” kata Dedie.
Ia juga menyoroti pendekatan ramah lingkungan yang menjadi salah satu fokus Smart Green Industrial Systems. Penguasaan teknologi industri yang memperhatikan keberlanjutan dinilai penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Dedie berharap pendidikan tinggi di bidang arsitektur juga dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh kompetensi dan sertifikasi profesi sesuai ketentuan yang berlaku, khususnya dalam sektor jasa konstruksi.
Dengan dukungan kompetensi profesional, lulusan diharapkan tidak hanya menguasai aspek akademik, tetapi juga memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja.
“Kalau sekarang sudah ada ilmunya dan bidang studinya di sini, sekalian saja ditambah proses supaya mereka punya sertifikasi, bisa langsung bekerja, membantu, dan mempermudah proses,” pungkasnya.
Kehadiran kampus Unpar di Kota Bogor diharapkan memperluas pilihan pendidikan tinggi bagi masyarakat. Namun, kontribusi jangka panjangnya akan bergantung pada kesiapan penyelenggaraan pendidikan, kualitas lulusan, serta realisasi kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sektor industri.
Editor: Ifan Jafar Siddik