Sentinel juga mengingatkan pernyataan mantan Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang pernah mengungkap adanya persoalan dalam pengadaan aditif saat memberikan kesaksian di persidangan. Dalam pernyataan tersebut, Ahok menyinggung praktik pengadaan dengan mengganti nama perusahaan meskipun produk yang digunakan sama, serta perbedaan harga yang menyebabkan biaya menjadi lebih mahal.
Menurut Sentinel, fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan aditif bukan semata isu teknis, melainkan menyangkut tata kelola pengadaan. Oleh karena itu, dugaan penunjukan langsung penyedia aditif dan praktik pencampuran aditif secara manual pada produk Solar B40 Performance dinilai sebagai pola berulang yang perlu diaudit secara menyeluruh.
“Jika konsumen industri membayar harga premium atas klaim ‘Performance’, namun ternyata produknya hanya solar yang dicampur aditif secara manual, maka hal ini berpotensi menyesatkan publik dan merugikan konsumen,” tegas Sentinel.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa peluncuran Biosolar B40 Performance merupakan jawaban atas tantangan teknis yang kerap dihadapi sektor industri, seperti kandungan air, potensi penyumbatan filter, serta penurunan performa mesin akibat sifat fatty acid methyl ester (FAME) yang higroskopis.
“Produk ini kami desain khusus untuk B40 dan telah dilengkapi paket aditif untuk membantu mengatasi isu teknis yang sering dialami konsumen industri,” kata VP Business Development and Subsidiary Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, dalam konferensi pers yang dikutip dari Antara, Selasa (23/12/2025).
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
