Mahasiswa juga menilai keberhasilan pemberdayaan masyarakat di Huntap Sumbermujur tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan, tetapi juga oleh kolaborasi yang berkelanjutan antara berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kapasitas masyarakat.
Dosen pembimbing delegasi IBI Kesatuan, Dr. Budi Setiawan, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan internasional semacam ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menempatkan masyarakat sebagai ruang implementasi ilmu pengetahuan.
"Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di dalam kelas. Mereka harus melihat, berdialog, dan belajar langsung dari masyarakat. Huntap Sumbermujur memberikan contoh bahwa kolaborasi antara kampus, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha mampu melahirkan solusi yang berdampak nyata bagi pembangunan ekonomi lokal," tegasnya.
Menurut Dr. Budi, pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk cara berpikir mahasiswa agar lebih adaptif terhadap persoalan sosial dan memiliki kemampuan menyusun inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
"Kami ingin mahasiswa IBI Kesatuan menjadi agen perubahan. Apa yang mereka pelajari di Lumajang bukan berhenti sebagai pengalaman akademik, tetapi menjadi inspirasi untuk melahirkan program pemberdayaan yang dapat diterapkan di daerah asal dengan menyesuaikan potensi lokal masing-masing," tambahnya.
Selain mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat, delegasi mahasiswa juga berpartisipasi dalam agenda ilmiah ICEMAI 2026 sebagai bagian dari penguatan budaya riset dan publikasi internasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pengalaman tersebut, IBI Kesatuan Bogor menegaskan komitmennya untuk terus mendorong mahasiswa memiliki kompetensi akademik sekaligus kepekaan sosial, sehingga mampu menghadirkan solusi yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan bagi pembangunan masyarakat.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
