Rektor UIKA Bogor Buka 3rd IICASS 2026: Konferensi Digelar Paralel di Bogor dan Kelantan

Furqon Munawar
Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si (kelima dari kanan) saat mengabadikan momen bersama jajaran usai membuka Konferensi Internasional IICASS 2026. (Foto : Istimewa)

BOGOR, iNewsBogor.id – Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si., secara resmi membuka 3rd Ibn Khaldun International Conference on Applied and Social Sciences (IICASS) 2026, Senin (7/9/2026). Konferensi internasional bertema "Strengthening Social Safeguards for Sustainable Development: Advancing Inclusion, Resilience, and Equitable Transformation in a Changing World" ini digelar secara paralel di dua negara, yakni di Universiti Malaysia Kelantan (UMK), Malaysia, dan di Kampus UIKA Bogor, yang terhubung secara daring.

Konferensi ini semula direncanakan terpusat di UMK. Namun, erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada pembatalan seluruh penerbangan membuat delegasi dari Bogor tidak dapat berangkat ke Kelantan. Panitia pun memutuskan menggelar konferensi secara hybrid, sehingga seluruh rangkaian acara, mulai dari pembukaan, sesi pembicara undangan, hingga presentasi paralel, tetap berlangsung sesuai jadwal di kedua kampus.

UIKA Bogor bertindak sebagai penyelenggara utama konferensi ini, dengan UMK sebagai tuan rumah, serta Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan (IBIK) Bogor dan Abdelmalek Essaâdi University, Maroko, sebagai co-organizer. Peserta mengikuti acara dari dua kampus tersebut dan secara daring dari berbagai kota dan negara.

Dalam sambutannya, Prof. Mujahidin menegaskan bahwa pembangunan harus ditopang oleh ilmu pengetahuan, namun ilmu saja tidak cukup tanpa karakter yang baik.

"Kami percaya pembangunan harus didukung oleh sains. Tanpa sains, pembangunan akan stagnan. Namun pembangunan yang hanya berbasis pengetahuan juga tidak cukup. Dibutuhkan karakter yang baik untuk menjaga stabilitas pembangunan. Tanpa karakter yang baik, pembangunan justru akan merusak kemanusiaan," ujarnya.

Menurutnya, kecerdasan tanpa integritas dapat melahirkan korupsi, teknologi tanpa tanggung jawab dapat menciptakan bentuk kerusakan baru, dan kekuasaan tanpa keadilan dapat melahirkan penindasan. Karena itu, ia berharap konferensi ini menghasilkan temuan ilmiah yang dapat diimplementasikan dengan karakter yang baik demi terwujudnya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Rektor menutup sambutannya dengan tiga bait pantun yang mengukuhkan persaudaraan UIKA Bogor dan UMK serta Indonesia dan Malaysia.

Dari Kelantan, Deputy Vice-Chancellor (Research and Innovation) UMK, Prof. Dr Wan Ahmad Amir Zal bin Wan Ismail, menyampaikan keynote speech yang menekankan pentingnya kolaborasi kedua negara dalam menjawab tantangan global.

Pembukaan turut dihadiri Ketua Pembina YPIKA, Dr. H. Didi Hilman, S.H., M.H., M.Pd.I.; Ketua Senat Akademik UIKA Bogor, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.; para Wakil Rektor UIKA Bogor: Prof. Dr. Hj. Maemunah Sa’diyah, M.Ag., Dr. Budi Susetyo, Ir., M.Si., Hambari, M.A., Ph.D., and Prof. Dr. Widyasari, M.Pd., serta pimpinan fakultas dari kedua universitas.

Lima Pembicara dari Empat Negara

Sesi pembicara undangan yang dipandu moderator Dr. Popy Novita Pasaribu, S.T.P., M.B.Sy., menghadirkan lima narasumber dari Indonesia, Malaysia, Tiongkok, dan Maroko.Dr. Rimun Wibowo, SP., M.Si., Principal Social Safeguards Equator Group yang juga Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor, membuka sesi dengan paparan berjudul "Challenges in Implementing Social Safeguards on Infrastructure Projects in Indonesia". Ia membandingkan tiga proyek yang dibiayai ADB, JICA, dan KfW, yakni pengendalian banjir di Banten dan Maluku, Jalan Tol Akses Patimban di Subang, serta panas bumi Ulumbu dan Mataloko di Flores, dan menemukan bahwa kesenjangan antara standar lembaga pembiaya dan praktik di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah terbesar Indonesia.

Assoc. Prof. Dr. Hadhrami bin Ab. Ghani, Dekan Fakulti Sains Data dan Komputeran UMK, menawarkan pendekatan berbasis data. Menurutnya, kecerdasan buatan, komputasi geospasial, dan registri sosial yang dinamis dapat membantu pemerintah mengenali rumah tangga rentan sebelum pembangunan dimulai, bukan berbulan-bulan sesudahnya.

Dari sektor energi, Kamia Handayani, Ph.D., Executive Vice President Energy Transition and Sustainability PT PLN (Persero), memaparkan konsep Environmental and Social Management System (ESMS) PLN dan tantangan penerapannya dalam transisi energi. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada aspek teknis, melainkan pada institusionalisasi sistem di perusahaan sebesar PLN.

Prof. Guoqing Shi dari Hohai University, Tiongkok, pendiri National Research Center for Resettlement, membagikan pelajaran dari pemukiman kembali lebih dari 80 juta penduduk akibat proyek pembangunan di negaranya sejak 1950, termasuk 1,3 juta jiwa pada proyek Bendungan Tiga Ngarai. Ia menekankan prinsip "tanpa rencana pemukiman kembali, tidak ada proyek" dan pentingnya pemulihan mata pencaharian, bukan sekadar pemindahan rumah.

Sementara itu, Prof. Dr. Amina Hachimi dari Abdelmalek Essaadi University, Maroko, mengangkat pengalaman negaranya memadukan pembangunan infrastruktur besar seperti kereta cepat Al Boraq dan pembangkit surya Noor Ouarzazate dengan kebijakan inklusi sosial dan jaminan kesehatan universal. Menurutnya, keberhasilan pembangunan seharusnya diukur dari kesenjangan yang tertutup, bukan dari kilometer jalan yang terbangun.

Social Safeguards Lahir dari LapanganKetua Panitia (Conference Chair) 3rd IICASS 2026, Dr. Rimun Wibowo, SP., M.Si., menjelaskan alasan pemilihan tema social safeguards atau perlindungan sosial dalam pembangunan pada konferensi tahun ini.

"Tema ini tidak lahir di ruang seminar saja. Tema ini lahir di lapangan. Lebih dari dua puluh tahun saya bekerja mendampingi proyek infrastruktur di Indonesia, mulai dari jalan tol, kereta cepat, bendungan, pembangkit listrik, hingga tambang. Dari pengalaman itu saya belajar satu hal sederhana yang sering dilupakan: pembangunan tidak pernah hanya soal beton dan baja. Di balik setiap kilometer jalan dan setiap megawatt listrik, ada keluarga yang harus pindah, ada petani yang kehilangan sawah, ada masyarakat yang cara hidupnya berubah," ujar Rimun.

Ia menegaskan bahwa social safeguards adalah cara memastikan mereka yang menanggung biaya pembangunan tidak tertinggal ketika manfaat pembangunan itu tiba.

"Social safeguards yang kuat bukanlah beban yang memperlambat pembangunan. Ia justru fondasi yang membuat pembangunan berkelanjutan dan diterima oleh masyarakat. Inklusi, ketahanan, dan transformasi yang berkeadilan, tiga kata yang menjadi inti tema kita, hanya bisa dicapai ketika ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik di lapangan bergerak bersama," tambahnya.

Rimun juga menyampaikan bahwa perubahan iklim, transisi energi, urbanisasi yang cepat, dan revolusi kecerdasan buatan membuat tugas ini semakin mendesak sekaligus semakin kompleks. Karena itu, panitia sengaja menghadirkan pembicara dari latar belakang yang sangat beragam.

"Kami percaya safeguards yang kuat hanya bisa dibangun melalui percakapan yang melintasi disiplin dan melintasi batas negara. Kami berharap konferensi ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menjadi awal kolaborasi riset, publikasi bersama, dan jaringan praktisi safeguards yang saling menguatkan di kawasan ini," katanya.

Terkait perubahan format acara, Rimun menyampaikan apresiasi kepada UMK dan seluruh peserta yang tetap mengikuti konferensi meski kondisi berubah mendadak.

"Justru dalam situasi seperti ini terlihat bahwa kemitraan UIKA dan UMK sudah cukup kuat. Dalam hitungan jam kami bisa memindahkan format acara tanpa mengurangi satu pun sesi," ujarnya.

Sesi Paralel Delapan Sub-Tema

Usai sesi pembicara undangan dan diskusi panel, konferensi dilanjutkan dengan sesi presentasi paralel yang diikuti para peneliti dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Presentasi dikelompokkan dalam delapan sub-tema, meliputi tata kelola dan kebijakan publik; ekonomi berkelanjutan dan pertumbuhan inklusif; pendidikan, modal manusia, dan transformasi digital; lingkungan, perubahan iklim, dan ketahanan masyarakat; pembangunan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat; pertanahan, perkotaan, dan pengembangan wilayah; teknologi, inovasi, dan masyarakat; serta budaya, agama, dan masyarakat berkelanjutan.

Makalah terpilih akan ditindaklanjuti untuk publikasi pascakonferensi. Panitia berharap IICASS ke-4 tahun depan dapat kembali digelar dengan jangkauan kolaborasi yang lebih luas. 

Editor : Furqon Munawar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network