Indonesia Timur Didorong Jadi Hub Kemitraan Riset dan Inovasi, BRIN Bidik Kolaborasi Industri

Ifan Jafar Sidik
Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Dr. Dadan M. Nurjaman saat membuka Temu Bisnis Infrastruktur Berbasis Riset dan Inovasi di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (30/9/2026). Foto: iNewsBogor.id

BOGOR, iNewsBogor.id — Indonesia Timur mulai diarahkan menjadi salah satu pusat pengembangan kemitraan riset dan inovasi nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan infrastruktur riset di kawasan tersebut agar tidak berhenti sebagai fasilitas penelitian, tetapi terhubung langsung dengan kebutuhan industri, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Dr. Dadan M. Nurjaman, mengatakan potensi infrastruktur riset yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia perlu dihubungkan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Hal itu disampaikan Dadan saat membuka Temu Bisnis Infrastruktur Berbasis Riset dan Inovasi di Wilayah Indonesia Timur di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa, Rabu (30/9/2026).

Menurut Dadan, BRIN tidak hanya memiliki peran dalam pengembangan riset dan inovasi, tetapi juga mengelola sejumlah infrastruktur yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti, akademisi, industri hingga mitra internasional.

“BRIN adalah penjuru Pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan riset dan inovasi, termasuk sejumlah infrastruktur yang lokasinya tersebar tidak hanya di Indonesia bagian Barat tetapi juga Tengah dan Timur,” kata Dadan.

Karena itu, kerja sama dengan Universitas Hasanuddin dinilai penting untuk membangun hub kemitraan infrastruktur riset dan inovasi di Indonesia Timur.

Forum tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, peneliti, pelaku industri, mahasiswa, pemerintah hingga korps diplomatik. Kehadiran berbagai pihak diharapkan membuka peluang pemanfaatan fasilitas riset BRIN untuk menjawab kebutuhan dan persoalan nyata di lapangan.

Dari Riset ke Produk dan Industri

Dadan menekankan, temu bisnis tersebut perlu menghasilkan tindak lanjut yang konkret. Kerja sama tidak hanya diarahkan pada penelitian bersama, tetapi juga dapat mencakup pemanfaatan fasilitas, pengembangan teknologi, lisensi, pengujian hingga pengembangan produk.

Dengan pola tersebut, hasil riset diharapkan memiliki jalur yang lebih jelas menuju penerapan dan manfaat ekonomi maupun sosial.

“Para pemangku kepentingan bersama pelaku industri dapat menghasilkan tindak lanjut yang konkret, baik dalam bentuk kerja sama riset, pemanfaatan fasilitas, pengembangan teknologi, lisensi, pengujian, pengembangan produk, maupun bentuk kemitraan lainnya,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan yang disampaikan Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Dr. Joannes Ekaprasetya Tandjung.

Ia menilai pola kemitraan riset perlu mengalami perubahan. Hubungan antara lembaga riset dan mitra tidak cukup hanya berorientasi pada kegiatan penelitian, tetapi harus diarahkan sampai menghasilkan dampak.

Pendekatan itu disebutnya sebagai pergeseran dari research-driven menuju research-to-impact.

Dengan demikian, kemitraan diharapkan tidak bersifat transaksional, melainkan membentuk ekosistem yang memberikan manfaat bagi pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.

Industri Bawa Masalah, Riset Hadirkan Solusi

Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Hendra Pachri, S.T., M.Eng., IPU, mengatakan pertemuan tersebut mempertemukan tiga kekuatan utama, yakni industri, periset dan perguruan tinggi.

Menurutnya, industri memiliki kebutuhan, pendanaan sekaligus persoalan nyata yang membutuhkan solusi. Di sisi lain, periset memiliki pengetahuan dan teknologi, sementara perguruan tinggi mempunyai kapasitas akademik serta sumber daya manusia.

Pertemuan ketiga unsur tersebut menjadi penting agar hasil penelitian tidak berhenti di ruang akademik.

Temu bisnis ini diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari pelaku industri, akademisi dan mahasiswa. Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dari unsur diplomatik, hadir Konsul Jenderal Filipina di Manado Mary Jennifer Domingo Dingal dan Konsul Jenderal Australia di Makassar Sanchi Davis.

Davis menilai forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih jauh infrastruktur riset yang dikelola BRIN sekaligus membuka peluang kerja sama.

Sementara Dingal mengapresiasi langkah BRIN yang mendorong kemitraan internasional melalui perwakilan negara-negara sahabat yang berada di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

BRIN dan Unhas Perkuat Kerja Sama

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BRIN dan Universitas Hasanuddin juga menandatangani perjanjian kerja sama yang menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat kolaborasi kedua institusi.

Sebelumnya, Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN juga memberikan kuliah umum kepada mahasiswa lintas fakultas Universitas Hasanuddin dengan tema “Memperkuat Ekosistem untuk Indonesia di Wilayah Indonesia Timur.”

Rangkaian kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas antara riset, pendidikan, industri dan kebutuhan pembangunan di kawasan Indonesia Timur.

Langkah berikutnya akan dilanjutkan melalui 2026 Leaders Summit on Research and Innovation Infrastructure yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 November 2026 di BRIN Thamrin.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang lanjutan untuk memperluas kemitraan dan membangun ekosistem infrastruktur riset dan inovasi yang lebih terhubung dengan kebutuhan industri serta pembangunan nasional.

Editor : Ifan Jafar Siddik

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network