Mengenang Jenderal Agus Widjojo, Perwira Intelektual yang Konsisten Jaga Demokrasi
JAKARTA, iNewsBogor.id – Kepergian Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo meninggalkan duka sekaligus jejak pemikiran mendalam bagi kalangan militer, akademisi, dan masyarakat sipil. Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai almarhum sebagai sosok perwira intelektual yang konsisten mendorong profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta penguatan demokrasi di Indonesia.
Didik mengisahkan perkenalannya dengan Agus Widjojo bermula pada awal 1990-an ketika terlibat dalam perancangan seminar Angkatan Darat di Bandung. Dalam interaksi yang berlangsung intensif selama beberapa hari, ia melihat kapasitas intelektual Agus yang mampu memadukan perspektif politik dan militer dalam konteks perubahan zaman.
“Saya melihat beliau sebagai jenderal yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga matang secara intelektual dan sangat memahami arah perubahan masyarakat modern,” ujar Didik dalam keterangan tertulis di Jakarta, 9 Januari 2026.
Sejak saat itu, komunikasi keduanya berlanjut melalui berbagai forum diskusi, seminar, hingga percakapan di ruang digital. Di mata kalangan intelektual sipil, Agus dikenal santun, terbuka terhadap dialog, serta memiliki pandangan strategis yang menjunjung profesionalisme militer dan supremasi sipil sebagai fondasi negara demokrasi.
“Beliau konsisten menempatkan TNI sebagai institusi profesional yang tunduk pada konstitusi, sekaligus mendorong demokrasi yang sehat dan seimbang,” kata Didik.
Didik menilai Agus Widjojo termasuk figur penting dalam masa transisi Reformasi, terutama dalam mendorong berakhirnya praktik Dwifungsi ABRI. Menurutnya, Agus berpandangan militer yang kuat justru lahir dari sistem demokrasi, bukan dari keterlibatan dalam politik praktis.
“Bagi beliau, kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Militer adalah alat negara untuk pertahanan, bukan penjaga kekuasaan,” ujarnya.
Pandangan tersebut, lanjut Didik, memberi kontribusi besar terhadap pembentukan relasi sipil-militer yang lebih sehat pada era Reformasi.
Didik juga menempatkan Agus dalam jajaran perwira senior yang memiliki keluasan wawasan sosial, politik, dan strategis. Ia menyebut sejumlah tokoh lain yang dikenal sebagai perwira intelektual, seperti almarhum Jenderal TNI Sajidiman Suryohadiprodjo, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, ZA Maulani, hingga Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun demikian, ia menilai figur dengan kedalaman intelektual dan konsistensi gagasan seperti Agus Widjojo kini semakin jarang ditemukan di kalangan perwira aktif.
“Beliau memiliki kombinasi pengalaman militer, kedalaman pemikiran strategis, dan komitmen demokrasi yang tidak mudah tergantikan,” kata Didik.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Agus Widjojo juga berperan penting di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Melalui lembaga tersebut, gagasan strategisnya turut membentuk perspektif para pemimpin nasional dalam memahami dinamika geopolitik, geoekonomi, serta perkembangan masyarakat sipil modern.
Didik menilai Lemhanas di bawah peran Agus menjadi ruang penting bagi pengembangan pemikiran strategis negara.
“Pemikiran beliau menyebar luas ke kalangan pengambil kebijakan. Warisan intelektualnya bersifat komprehensif dan menjadi bagian penting dari pembangunan pemikiran kebangsaan,” ujarnya.
Menurut Didik, wafatnya Agus Widjojo bukan hanya kehilangan bagi institusi militer, tetapi juga bagi perkembangan demokrasi dan pemikiran strategis Indonesia secara luas.
“Bangsa ini kehilangan seorang perwira intelektual yang sepanjang hidupnya mengabdi pada profesionalisme militer dan kematangan demokrasi,” ucapnya.
Refleksi tersebut disampaikan Didik J. Rachbini sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi intelektual dan pengabdian Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo bagi bangsa dan negara.
Editor : Ifan Jafar Siddik