get app
inews
Aa Text
Read Next : Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Ramadan 2026, Saksikan Penetapan Resmi di Sini!

Jejak Cahaya di Kota Hujan: Menelusuri Masjid Bersejarah dan Tradisi Ramadan Bogor

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:17 WIB
header img
Berdiri di depan Masjid An-Nur, rasanya seperti ditarik kembali ke masa ratusan tahun lalu. Kawasan Empang bukan sekadar titik di peta Bogor, tapi pusat spiritualitas yang menjaga tradisi para ulama Hadramaut tetap hidup Foto: Okezone

BOGOR, iNewsBogor.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H (2026), suasana di Kota Bogor mulai berubah. Kota yang dikenal dengan julukan "Kota Hujan" ini tidak hanya menyimpan pesona alam, tetapi juga akar sejarah Islam yang sangat kuat melalui masjid-masjid tuanya.

Dari tahun ke tahun, kemeriahan Ramadan di Bogor selalu menjadi perpaduan unik antara ketaatan spiritual dan kekayaan budaya Sunda.

1. Masjid Al-Mustofa: Saksi Bisu 7 Abad Syiar Islam

Di kawasan Bantarjati, Bogor Utara, berdiri tegak Masjid Al-Mustofa. Dibangun pada tahun 1728 oleh dua ulama besar, Tubagus Mustofa Bakri (Banten) dan Raden Dita Manggala (Cirebon), masjid ini dinobatkan sebagai yang tertua di Kota Bogor.

Masjid ini memiliki keunikan yang selalu menarik perhatian jamaah setiap Ramadan:

  • Al-Quran Tulis Tangan: Disimpan dengan rapi, Al-Quran kuno ini menjadi simbol literasi Islam masa lampau.

  • Mata Air Abadi: Terdapat sumber air yang konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang, sering digunakan warga untuk bersuci sebelum memasuki bulan puasa.

  • Arsitektur Autentik: Meski telah berusia hampir 300 tahun, struktur utama bangunan tetap dipertahankan, memberikan nuansa khusyuk yang mendalam bagi mereka yang ingin melaksanakan iktikaf.

2. Masjid An-Nur Empang: Pusat Spiritualitas "Kampung Arab"

Bergeser ke arah selatan, Masjid An-Nur di kawasan Empang menjadi titik kumpul utama bagi warga keturunan Arab di Bogor. Didirikan sekitar tahun 1815, masjid ini merupakan saksi perkembangan Islam yang dibawa oleh para ulama Hadramaut.

Setiap memasuki Ramadan, Masjid Empang mengalami lonjakan jamaah, terutama pada malam ke-21 (Maleman). Tradisi zikir bersama dan pembacaan kitab Maulid Ad-Diba'i di sini menjadi daya tarik religi yang mampu mendatangkan ribuan jamaah dari luar kota Bogor.

Tradisi "Munggahan": Jembatan Rasa dan Doa

Suasana menyambut Ramadan di Bogor tidak lengkap tanpa Munggahan. Tradisi ini dilakukan masyarakat setempat pada H-1 atau H-2 sebelum puasa dimulai.

"Munggahan bukan sekadar makan-makan, tapi momen saling memaafkan agar hati bersih sebelum berpuasa," ungkap salah satu tokoh masyarakat di Bantarjati.

Ada beberapa kegiatan rutin yang dilakukan warga Bogor dari tahun ke tahun:

  1. Cucurak (Makan Bareng): Warga berkumpul beralaskan daun pisang untuk menikmati nasi liwet dan lauk-pauk sebagai simbol kebersamaan.

  2. Ziarah Kubur: Tempat Pemakaman Umum (TPU) seperti Dreded atau pemakaman keluarga di sekitar masjid bersejarah akan dipadati peziarah yang mendoakan leluhur.

  3. Bersih-bersih Masjid: Secara gotong royong, warga membersihkan area masjid bersejarah agar nyaman digunakan untuk salat Tarawih berjamaah.

Tahun ini, penetapan awal Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026 hasil sidang isbat Kementerian Agama RI. Pemerintah Kota Bogor pun telah bersiap menata kawasan-kawasan religi untuk menyambut para wisatawan religi dan jamaah lokal.

Dengan balutan sejarah dan tradisi yang kental, Ramadan di Bogor tetap menjadi momen yang paling dinanti untuk kembali ke "fitrah" di tengah sejuknya udara Kota Hujan.

Editor : Ifan Jafar Siddik

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut