Proyek Hotel Sayaga Bogor Disorot, Aktivis Desak BPK Lakukan Audit Investigasi
CIBINONG, iNewsBogor.id - Proyek pembangunan Hotel Sayaga Wisata yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sayaga Wisata Bogor kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah LSM dan mahasiswa yang tergabung dalam NGO Kabupaten Bogor menduga proyek yang berlokasi di Jalan Raya Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor itu bermasalah dalam soal anggaran.
Ketua NGO Kabupaten Bogor Bersatu (KBB), Rizwan Riswanto, menilai proyek yang telah menelan dana ratusan miliar rupiah tersebut hingga kini belum memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan, operasional hotel disebut masih belum optimal sejak proses pembangunannya dimulai pada masa kepemimpinan bupati sebelumnya.
Menurut Rizwan, sejumlah persoalan hukum dan teknis mewarnai proyek pembangunan hotel tersebut, mulai dari dugaan penyimpangan anggaran hingga masalah konstruksi yang membuat proyek sempat mangkrak.
Dia pun mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk segera melakukan audit investigasi secara menyeluruh terhadap seluruh Penyertaan Modal Daerah (PMD) yang telah dikucurkan kepada PT Sayaga Wisata.
“Perlu audit investigasi menyeluruh terhadap dana penyertaan modal yang sudah digelontorkan agar publik mengetahui secara transparan bagaimana pengelolaannya,” kata Rizwan.
Selain itu, muncul pula laporan dugaan penyelewengan anggaran dalam proses konstruksi yang menyebabkan proyek mengalami keterlambatan serta kualitas bangunan dipertanyakan.
Sebelumnya, kontraktor proyek ini juga sempat dikenai denda sebesar Rp3,6 miliar akibat keterlambatan pengerjaan. Namun menurut Rizwan, sanksi tersebut belum menyentuh akar persoalan dugaan penyimpangan anggaran di internal proyek.
Tak hanya terkait konstruksi, Hotel Sayaga Wisata juga diterpa isu dugaan pelanggaran kewajiban perpajakan. Aktivis menyoroti adanya indikasi dugaan praktik “kongkalikong” antara pihak pengelola dengan oknum di Badan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Bogor.
Diduga, kewajiban pajak yang seharusnya disetorkan oleh entitas BUMD tersebut dimanipulasi atau tidak disetorkan secara penuh untuk menutupi defisit keuangan perusahaan.
Selain itu, manajemen PT Sayaga Wisata juga dinilai kurang transparan dalam memberikan penjelasan kepada publik maupun media terkait status perpajakan perusahaan.
Hingga awal 2026, operasional Hotel Sayaga disebut masih belum berjalan optimal meskipun sempat melakukan trial opening melalui kerja sama dengan operator Horison Hotel Group. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa BUMD tersebut berpotensi mengalami kesulitan keuangan jika tidak segera mendapatkan investor strategis atau suntikan dana tambahan.
Berdasarkan data hingga awal 2026, total penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Bogor untuk PT Sayaga Wisata (Perseroda) dalam pembangunan Hotel Sayaga tercatat cukup besar.
Pada tahap awal pembangunan periode 2016–2018, dana penyertaan modal daerah mencapai sekitar Rp178,2 miliar. Kemudian pada 2025, Pemkab Bogor kembali menyetujui tambahan PMD sebesar Rp35,6 miliar melalui APBD untuk menyelesaikan pembangunan fisik hotel agar dapat beroperasi penuh.
Selain dana dari APBD, pihak operator Horison Hotel Group juga dilaporkan memberikan investasi pembangunan sekitar Rp17,8 miliar pada 2024 yang nantinya dikompensasi melalui skema bagi hasil keuntungan.
Sejumlah elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan aktivis antikorupsi yang tergabung dalam NGO KBB, kini terus mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor agar membuka secara transparan pengelolaan proyek tersebut serta membenahi tata kelola PT Sayaga Wisata agar potensi kerugian daerah tidak semakin membesar.
Terkait tudingan tersebut, mantan Direktur Utama PT Sayaga Wisata, BUMD Pemerintah Kabupaten Bogor, Supriadi Jufri, memberikan tanggapan. Dia mengatakan proyek pembangunan Hotel Sayaga memang menjadi sorotan berbagai pihak dan telah melalui pemeriksaan oleh sejumlah lembaga.
“Pekerjaan Hotel Sayaga memang menjadi sorotan berbagai pihak dan sudah menjadi objek pemeriksaan juga kang. Insya Allah semua sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujar Supriadi Jupri saat dikonfirmasi iNews.id, Selasa (10/3/2026).
Dia juga menyampaikan bahwa saat ini operasional Hotel Sayaga sudah berjalan dan mulai menghasilkan pendapatan sesuai target yang ditetapkan.
“Alhamdulillah sekarang hotel sudah berjalan dan sudah menghasilkan revenue sesuai target. Tinggal bagaimana menjaganya dengan hati-hati, terutama dari sisi efisiensi biaya,” katanya.
Supriadi mengaku bersyukur karena hotel tersebut telah beroperasi dan mulai memberikan pemasukan bagi perusahaan.
“Melihat Hotel Sayaga sudah berjalan dan menghasilkan revenue membuat saya bersyukur. Sayaga Wisata insya Allah sudah aman,” ujarnya.
Dia menambahkan, dirinya telah mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama PT Sayaga Wisata per 11 Februari 2026.
“Sehingga saya merasa lega bisa mengundurkan diri sebagai Dirut Sayaga per 11 Februari kemarin,” tandasnya.
Editor : Suriya Mohamad Said