Nenek Penjual Keripik di Bogor Jago Bahasa Inggris dan Prancis saat Berjualan
Salah satu komentar yang menyita perhatian datang dari akun @Media-collection yang membagikan kisah pribadi.
“Jadi ingat almarhum suami, jadi guru honorer bahasa Inggris sudah 9 tahun. Tiap tahun ikut pendaftaran PNS tidak pernah lolos. Padahal pernah dikirim Palang Merah Indonesia jadi duta ke Korea Selatan lewat seleksi ketat nasional. Sampai 14 kali ikut tes tetap tidak lolos, akhirnya bikin usaha sendiri. Alfatihah suamiku,” tulisnya.
Komentar lain juga mendorong agar kemampuan nenek tersebut dimanfaatkan lebih luas.
Akun @asballahsulaiman8941 menyarankan agar masyarakat tidak ragu menggunakan jasanya sebagai penerjemah.
Sementara @thesounddistiller berharap ada pihak yang bersedia memberikan kesempatan kepada sang nenek menjadi tutor atau translator.
Di sisi lain, ada pula warganet yang menyoroti persoalan sistemik.
“Di Indonesia itu sebenarnya tidak kekurangan orang pintar, tapi dipaksa bodoh oleh sistem,” tulis akun @AanD.H.
Fenomena ini kembali menunjukkan bahwa potensi dan kemampuan individu sering kali tidak selalu berjalan seiring dengan kesempatan yang tersedia.
Di tengah keterbatasan, sosok nenek penjual keripik ini justru menjadi gambaran nyata bahwa keterampilan, semangat, dan daya juang tetap bisa bersinar—bahkan dari tempat yang tak terduga.
Editor : Ifan Jafar Siddik