get app
inews
Aa Text
Read Next : Karhutla Berulang, IPB University Siapkan Teknologi untuk Memantau Dampaknya ke Udara

Mengapa Puncak Bogor Terasa Makin Dingin Saat Musim Kemarau? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya

Sabtu, 05 September 2026 | 11:51 WIB
header img
Kawasan Puncak Bogor, potret dari ketinggian. (Foto : Istimewa)

BOGOR, iNewsBogor.id - Suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, terasa semakin dingin saat memasuki sore hingga malam hari. Fenomena ini terjadi di tengah musim kemarau yang sedang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.

Ternyata, kondisi tersebut bukan sekadar karena Puncak berada di kawasan dataran tinggi. Peneliti sekaligus dosen IPB University Departemen Geofisika dan Meteorologi, Dr Givo Alsepan, mengungkap sejumlah faktor yang membuat udara di Puncak terasa lebih dingin saat musim kemarau.

Menurut Givo, salah satu faktor utamanya adalah aktivitas Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dan lebih dingin menuju wilayah Indonesia.

“Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia,” ujar Givo.

Givo menjelaskan, fenomena tersebut tidak berarti udara dingin dari Australia secara langsung masuk dan kemudian mendinginkan kawasan Bogor. Ada proses atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

Pada periode Monsun Australia, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia.Perbedaan tekanan tersebut kemudian menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia.

Secara sederhana, aliran massa udara tersebut dapat digambarkan dari Australia angin timur/tenggara Indonesia Jawa Bogor.

“Monsun Australia berperan dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia,” jelasnya.

Kondisi tersebut sejalan dengan penjelasan BMKG bahwa Monsun Australia dapat membawa massa udara kering dan mengurangi tutupan awan. BMKG juga menyebut fenomena angin Monsun Australia menjadi salah satu penyebab suhu dingin pada periode puncak musim kemarau, terutama Juli-Agustus.

Namun, menurut Givo, massa udara dari Australia bukan satu-satunya penyebab Puncak Bogor terasa dingin.Kondisi udara yang relatif kering, kelembapan yang lebih rendah, serta langit yang cenderung cerah juga berperan besar, terutama setelah matahari terbenam.

Pada siang hari, minimnya tutupan awan membuat permukaan bumi menerima radiasi matahari lebih banyak sehingga mengalami pemanasan. Namun ketika matahari terbenam, permukaan bumi mulai melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa.

“Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa,” paparnya.

Saat langit relatif cerah dan kandungan uap air rendah, pelepasan panas tersebut berlangsung lebih efektif. Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas dengan lebih cepat.

“Akibatnya, permukaan Bumi kehilangan panas dengan cepat. Proses ini disebut pendinginan radiatif,” jelas Givo yang juga merupakan Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University.

Proses pendinginan radiatif inilah yang membuat perubahan suhu semakin terasa setelah matahari terbenam.

Pada siang hari, permukaan bumi menerima dan menyimpan energi panas dari matahari. Ketika malam tiba, energi tersebut dilepaskan kembali.

Jika kondisi atmosfer kering dan langit cerah, proses pelepasan panas menjadi lebih efektif sehingga suhu permukaan dan udara di dekat permukaan dapat turun lebih cepat. Bagi kawasan Puncak Bogor yang berada di dataran tinggi, kondisi tersebut membuat udara malam terasa semakin dingin bagi warga maupun wisatawan.

Fenomena udara dingin tersebut juga terjadi bertepatan dengan periode puncak musim kemarau 2026.BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dengan demikian, udara Puncak yang terasa dingin menjelang sore hingga malam bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Kondisi tersebut merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun, karakter massa udara, kelembapan, tutupan awan, serta proses pelepasan panas dari permukaan bumi.

"Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam,” tandas Givo.

Editor : Furqon Munawar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut