Menteri Lingkungan Hidup Sorot Megamendung, Ekowisata Diminta Jadi Pemulihan
Konsep serupa juga dikembangkan EIGER Nature di Megamendung, Kabupaten Bogor. Chairman EIGER Nature Ronny Lukito menyebut kawasan tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang menggabungkan restorasi dan konservasi lingkungan, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat.
“Sebagai brand yang lahir di Jawa Barat, kami ingin memberikan sumbangsih melalui ekowisata,” kata Ronny.
Berdasarkan keterangan EIGER Nature, sejak 2021 program restorasi di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 telah mencakup penanaman lebih dari 120 ribu pohon dan perdu serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah.
EIGER Nature juga menyebut telah mendukung kegiatan konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Meski demikian, pengembangan ekowisata tidak hanya berkaitan dengan jumlah tanaman yang ditanam. Keberlanjutan program juga bergantung pada pemeliharaan kawasan, keterlibatan masyarakat, edukasi lingkungan, serta kepatuhan terhadap ketentuan pengelolaan kawasan konservasi dan lingkungan.
Ronny mengatakan EIGER Nature diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih dekat dengan alam dan memperoleh pengalaman belajar dari lingkungan.
“Ketika kita semakin mengenal alam, kita akan semakin memahami pentingnya menjaga dan merawatnya,” ujarnya.
Pengembangan ekowisata dengan demikian menghadirkan tantangan untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi, kebutuhan rekreasi, dan fungsi ekologis kawasan. Prinsip tersebut menjadi penting terutama ketika pengembangan dilakukan di wilayah yang memiliki nilai lingkungan dan berada di sekitar kawasan konservasi.
Editor: Ifan Jafar Siddik