Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : BOXGOR Dramaga Series 2026 Siap Panaskan Rivalitas Antarfakultas IPB University
Advertisement . Scroll to see content

Kehujanan Hingga Rambut Basah Kuyup Bikin Sakit? Ini Fakta Medisnya Menurut Dosen IPB University

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:37 WIB
  • author Furqon Munawar
Kehujanan Hingga Rambut Basah Kuyup Bikin Sakit? Ini Fakta Medisnya Menurut Dosen IPB University
Gambar ilustrasi Pria basah kuyup kehujanan. (Foto : Istimewa)

BOGOR, iNewsBogor.id– Kehujanan hingga rambut basah kuyup kerap dianggap sebagai penyebab flu, sakit kepala, hingga berbagai gangguan kesehatan lainnya. Anggapan tersebut masih dipercaya banyak orang. Namun, secara medis, air hujan maupun rambut basah bukan penyebab langsung seseorang jatuh sakit.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa, menjelaskan bahwa orang sehat pada dasarnya tidak perlu khawatir jika sesekali kehujanan. Hal terpenting adalah memperhatikan kondisi tubuh, paparan suhu dingin, serta kebersihan rambut dan kulit kepala setelah terkena air hujan.

"Secara medis, keramas saat hujan deras pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat, selama setelahnya tubuh dibilas dengan air bersih dan rambut dikeringkan segera,” jelas dr. Widya.

Benarkah Kehujanan Bisa Menyebabkan Flu 

Menurut dr. Widya, flu atau *common cold* merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus, bukan semata-mata karena air hujan atau rambut yang basah.

Artinya, seseorang tidak otomatis terkena flu setelah kehujanan. Meski demikian, paparan suhu dingin tetap dapat menimbulkan respons tertentu pada tubuh.

“Dalam kondisi dingin, pembuluh darah di kulit menyempit atau mengalami vasokonstriksi untuk mempertahankan panas tubuh. Kondisi ini dapat membuat seseorang menggigil dan tidak nyaman,” ungkapnya.

Selain itu, udara dingin juga dapat memengaruhi mukosa atau lapisan lendir pada hidung dan saluran pernapasan. Kondisi tersebut berkaitan dengan mekanisme pembersihan mukosiliar, yakni sistem alami tubuh untuk membersihkan lendir dan kuman, serta imunitas lokal di hidung.

Karena itu, meskipun kehujanan bukan penyebab langsung flu, paparan dingin tetap perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Air Hujan Bisa Membawa Polutan 

Selain suhu dingin, kualitas air hujan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Selama berada di atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, dan berbagai zat lainnya.

Partikel tersebut berpotensi menempel pada rambut dan kulit kepala ketika seseorang kehujanan.

“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata dr. Widya.

Untuk mengurangi risiko paparan kotoran dan polutan, masyarakat disarankan membilas rambut menggunakan air bersih setelah kehujanan, kemudian segera mengeringkannya.

Jika terpapar hujan dalam waktu lama, terutama di lingkungan dengan tingkat debu dan polusi tinggi, mencuci rambut menggunakan sampo lembut juga dapat membantu membersihkan partikel yang menempel.

Langkah sederhana tersebut dapat menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala tanpa perlu menganggap setiap paparan air hujan sebagai ancaman kesehatan.##

Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada

Meski kehujanan tidak secara langsung menyebabkan infeksi, paparan udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala pada orang yang sudah mengalami gangguan kesehatan tertentu.

Dr. Widya menyebutkan, orang yang sedang demam, mengalami kelelahan berat, memiliki infeksi saluran pernapasan, atau menderita asma dan rhinitis perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin.

Pada kelompok tersebut, suhu dingin berpotensi memperburuk ketidaknyamanan maupun gejala pada saluran pernapasan.Oleh karena itu, masyarakat disarankan segera mengganti pakaian basah, mengeringkan rambut, dan menghangatkan tubuh setelah kehujanan. Jika muncul gejala yang menetap atau memburuk, pemeriksaan medis dapat diperlukan sesuai kondisi yang dialami.

Dr. Widya menegaskan, kehujanan bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang jatuh sakit. Kondisi tubuh, paparan suhu dingin berkepanjangan, dan kualitas air yang mengenai rambut maupun kulit kepala juga perlu menjadi perhatian.

“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang,” pungkasnya.

Editor: Furqon Munawar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut