Namun, agar potensi tersebut benar-benar terwujud, diperlukan peran kelembagaan yang kuat dan mampu menjadi lokomotif gerakan zakat nasional. Dalam konteks ini, BAZNAS sebagai lembaga resmi negara memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukkan kepemimpinan dan menghadirkan terobosan nyata.
“Harapan masyarakat besar. Mereka ingin melihat zakat yang lebih berdampak. Dengan keberanian berinovasi, semangat berkolaborasi, dan komitmen menjaga akuntabilitas, BAZNAS bisa memperkecil kesenjangan antara potensi dan realisasi zakat,” tegasnya.
Momentum seleksi pimpinan BAZNAS, menurut Bambang, menjadi titik penting untuk menjawab permasalahan tersebut.
Bambang menekankan pentingnya pembenahan kelembagaan zakat agar bisa menjawab ekspektasi publik. Ia menyebut ada lima arah strategis yang bisa dijalankan. Pertama, BAZNAS harus berani menegakkan tata kelola yang transparan agar akuntabilitas publik benar-benar terjaga. Kedua, transformasi digital mesti dipercepat, bukan hanya untuk memperkuat kelembagaan, tapi juga agar layanan kepada muzakki dan mustahik lebih efektif.
Selain itu, kata Bambang, kolaborasi lintas pihak sangat krusial. “Zakat tidak bisa dikelola sendiri. Pemerintah, swasta, masyarakat sipil, kampus, hingga media perlu dipertemukan dalam sebuah ekosistem kolaboratif,” jelasnya.
Ia juga menekankan perlunya inovasi dalam pendayagunaan, misalnya lewat program produktif seperti smart farming atau beasiswa strategis yang menyiapkan SDM unggul. Terakhir, ia mendorong agar BAZNAS mengokohkan perannya sebagai mitra pembangunan bangsa.
Bambang menutup, apabila dikelola dengan tepat, zakat bisa menjadi instrumen strategis pembangunan nasional, tidak hanya sebagai ibadah sosial tetapi juga sebagai motor penggerak kemakmuran bangsa.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
