ACHMAD NUR HIDAYAT
EKONOM DAN PAKAR KEBIJAKAN PUBLIK UPN VETERAN JAKARTA
PERTANYAAN Penting di Tengah Tekanan Energi
Apakah kebijakan work from anywhere atau WFA benar benar membantu penghematan energi? Dan selain WFA, apa lagi yang bisa dilakukan pemerintah? Pertanyaan ini penting karena kebutuhan energi Indonesia terus meningkat, sementara sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang konsumsi energi terbesar. Di kota besar seperti Jakarta, kemacetan membuat penggunaan bahan bakar semakin boros. Dalam konteks itu, WFA terlihat menjanjikan karena dapat mengurangi mobilitas harian jutaan pekerja.
Namun masalahnya tidak sesederhana itu. WFA memang bisa mengurangi penggunaan bensin dan solar karena perjalanan ke kantor berkurang. Tetapi pada saat yang sama, konsumsi listrik di rumah meningkat karena laptop, pendingin ruangan, lampu, dan internet digunakan lebih lama. Jadi pertanyaan utamanya bukan apakah WFA menghemat energi atau tidak, melainkan apakah penghematan di jalan lebih besar daripada tambahan konsumsi di rumah.
WFA Bisa Menghemat, tetapi Tidak Otomatis
Di sinilah kita perlu melihat WFA secara lebih jernih. WFA ibarat menutup satu keran besar, tetapi membuka beberapa keran kecil. Ketika orang tidak berangkat kerja, konsumsi bahan bakar menurun dan kemacetan bisa berkurang. Namun energi rumah tangga ikut naik. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa secara umum penghematan dari berkurangnya perjalanan tetap lebih besar dibanding kenaikan listrik rumah tangga, terutama bila pekerja biasanya menggunakan kendaraan pribadi dan menempuh perjalanan cukup jauh.
Dalam konteks Indonesia, terutama Jakarta dan kota penyangganya, peluang penghematan itu cukup besar. Kemacetan tinggi membuat setiap pengurangan perjalanan memberi dampak langsung terhadap penggunaan energi. Karena itu, kebijakan WFA memang berpotensi membantu efisiensi energi, terutama bila diterapkan secara terukur pada sektor yang memungkinkan.
Tetapi WFA tidak boleh dianggap sebagai solusi utama. Jika kantor tetap beroperasi seperti biasa saat pegawai bekerja dari rumah, maka penghematan menjadi sangat kecil. Lampu, pendingin ruangan, lift, dan perangkat kantor tetap menyala, sementara rumah tangga juga menambah konsumsi listrik. Dalam situasi seperti ini, yang terjadi bukan efisiensi, melainkan sekadar perpindahan beban.
Masalah Utamanya Ada pada Sistem
Karena itu, kebijakan WFA harus dilihat sebagai bagian dari strategi, bukan tujuan akhir. Masalah energi Indonesia bukan hanya soal kehadiran pegawai di kantor, tetapi juga soal bagaimana kota dibangun, bagaimana orang bergerak, dan bagaimana gedung pemerintah beroperasi. Kalau akar persoalannya adalah transportasi boros, gedung boros, dan layanan publik yang masih menuntut tatap muka berulang, maka WFA hanya mengurangi tekanan sesaat.
Pemerintah tidak boleh berhenti pada solusi yang sifatnya administratif. WFA memang bisa membantu, tetapi hanya dalam skala terbatas. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik dalam cara negara menggunakan energi.
Selain WFA, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah
Pertama, pemerintah harus mempercepat perbaikan transportasi publik massal. Inilah cara paling efektif untuk menghemat energi dalam jangka panjang. Selama jutaan orang masih bergantung pada kendaraan pribadi, konsumsi bahan bakar akan tetap tinggi. WFA hanya mengurangi sebagian perjalanan, sedangkan transportasi publik yang efisien mengubah pola perjalanan secara permanen.
Kedua, pemerintah harus membenahi konsumsi energi di gedung gedung negara. Penghematan harus dimulai dari kantor pemerintah sendiri. Tidak masuk akal jika negara mengampanyekan efisiensi, tetapi kantor pemerintah tetap boros listrik, pendingin ruangan, dan kendaraan dinas. Audit energi, pengaturan suhu pendingin ruangan, penggunaan lampu hemat energi, serta pengawasan konsumsi listrik harus menjadi standar, bukan sekadar imbauan.
Ketiga, digitalisasi layanan publik harus dipercepat. Banyak perjalanan warga dan aparatur sebenarnya tidak perlu terjadi jika pelayanan sudah sepenuhnya digital. Rapat daring, tanda tangan elektronik, perizinan online, dan integrasi data antarlembaga dapat memangkas mobilitas yang selama ini dianggap biasa. Dalam hal ini, digitalisasi bukan hanya soal kemudahan, tetapi juga instrumen penghematan energi.
Keempat, efisiensi kendaraan dan diversifikasi energi harus terus diperkuat. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien, kendaraan rendah emisi, serta penguatan energi alternatif perlu ditempatkan dalam kerangka besar penghematan nasional. Penghematan energi tidak cukup dicari dari perubahan kebiasaan kerja, tetapi juga dari pembaruan teknologi dan kebijakan sektor energi.
Dari Kebijakan Musiman ke Perubahan Kebiasaan
Masalah lain dari WFA adalah sifatnya yang sering musiman. Ia biasanya muncul saat arus mudik, kemacetan tinggi, atau situasi tertentu. Setelah itu, pola lama kembali berjalan. Padahal penghematan energi memerlukan perubahan kebiasaan yang lebih permanen. Pemerintah perlu merancang pola kerja fleksibel yang berbasis kebutuhan sektor, target kinerja, dan efisiensi energi yang terukur.
Kita harus mengubah cara pandang. Hemat energi bukan sekadar mematikan lampu atau mengurangi perjalanan satu dua hari. Hemat energi adalah soal mendesain ulang cara negara bekerja dan cara kota bergerak. Dalam kerangka itu, WFA memang penting, tetapi ia hanyalah pintu masuk.
Catatan penting
Jadi, apakah WFA berpengaruh terhadap penghematan energi? Jawabannya ya, tetapi dengan syarat. WFA bisa menekan konsumsi energi terutama melalui pengurangan perjalanan harian, khususnya di kota besar yang macet dan bergantung pada kendaraan pribadi. Namun dampaknya tidak akan signifikan jika kantor tetap boros dan sistem transportasi serta layanan publik tidak dibenahi.
Karena itu, selain WFA, pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih mendasar, yaitu memperkuat transportasi publik, menertibkan konsumsi energi gedung pemerintah, mempercepat digitalisasi layanan, dan mendorong efisiensi kendaraan serta diversifikasi energi. Dengan cara itu, penghematan energi tidak berhenti sebagai kebijakan sesaat, tetapi menjadi bagian dari reformasi kebijakan publik yang lebih serius dan berkelanjutan.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
