Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menuju lokasi adalah kondisi aksesnya.
Sarang Semut Camp dapat dijangkau menggunakan mobil maupun sepeda motor. Namun, jalur menuju kawasan camping memiliki karakter perbukitan sehingga pengendara perlu lebih berhati-hati, terlebih ketika kondisi jalan basah setelah hujan.
Bagi kami, perjalanan malam setelah hujan memberikan pengalaman tersendiri.
Ketika akhirnya sampai, rasa khawatir yang sebelumnya muncul perlahan terbayar dengan suasana alam yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.
Udara Sejuk di Kaki Gunung Salak
Sarang Semut Camp berada di kawasan kaki Gunung Salak dan dekat dengan area perkebunan teh. Kondisi tersebut membuat suasana di sekitar camping terasa sejuk dan asri.
Pada cuaca cerah, kawasan ini juga menawarkan panorama Gunung Salak.
Namun, malam itu Gunung Salak tentu tidak terlihat karena suasana gelap dan sisa awan setelah hujan.
Sebagai gantinya, kami mendapatkan pemandangan lain yang tidak kalah menarik.
Lampu-lampu kota Bogor terlihat dari kejauhan.
Citylight Setelah Hujan
Hujan yang sejak siang membuat kami sempat ingin membatalkan perjalanan ternyata menghadirkan suasana berbeda ketika malam tiba.
Setelah hujan reda, udara menjadi lebih dingin dan bersih. Dari kawasan camping, cahaya permukiman dan perkotaan terlihat membentang di kejauhan.
Citylight menjadi salah satu pemandangan yang cukup menarik dari Sarang Semut Camp.
Dalam kondisi malam yang relatif cerah setelah hujan, titik-titik cahaya tersebut terlihat semakin jelas.
Kami pun memilih menikmati suasana tersebut sambil mempersiapkan makan malam.
Barbeque di Tengah Udara Dingin
Api mulai dinyalakan.
Daging yang dibawa dari Bogor kemudian dibakar satu per satu. Aroma barbeque bercampur dengan udara malam yang dingin.
Tidak ada menu khusus atau hidangan mewah. Hanya daging bakar, makanan ringan dan mie instan.
Namun, justru kesederhanaan itu yang membuat suasana terasa berbeda.
Lima orang yang sejak beberapa jam sebelumnya masih berada di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor kini duduk bersama di depan tenda, menikmati makanan sambil berbincang.
Bagi bocah berusia 4 tahun yang ikut dalam perjalanan, pengalaman tersebut menjadi petualangan kecil tersendiri.
Editor : Ifan Jafar Siddik
