JAKARTA, iNewsBogor.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan survei lapangan untuk memverifikasi dampak dua kejadian gempa bumi yang mengguncang wilayah Bogor, Jawa Barat, pada 15 Oktober 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, gempa tersebut berdampak pada kerusakan ratusan rumah dan beberapa rumah ibadah di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu menjelaskan bahwa gempa pertama terjadi pada pukul 17.49.43 WIB dengan magnitudo M3,5, kemudian disusul gempa kedua pada pukul 17.58.23 WIB dengan magnitudo M4,1. Kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal, masing-masing pada kedalaman 9 km dan 5 km.
“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kedua gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif,” kata Ayu sapaan akrab Teguh Rahayu dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/10/2026).
Hasil monitoring BMKG mencatat, setidaknya telah terjadi sebanyak 11 kali kejadian gempa susulan (after shock) setelah kedua gempa utama tersebut, dengan magnitudo berkisar M1,6–M2,6—di mana dua kejadian dirasakan oleh masyarakat. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi wilayah terdampak.
Lebih lanjut, guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan intensitas berbeda. Intensitas IV MMI dilaporkan di Pamijahan dan Kabandungan. Intensitas III MMI dirasakan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak. Sementara itu, intensitas II MMI dilaporkan di Palabuhanratu, Pabuaran, dan Cicantayan.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
