get app
inews
Aa Text
Read Next : Ini Doa-Doa Paling Dianjurkan di Bulan Suci Ramadhan

Memahami Fiqih Ramadhan, Panduan Ibadah agar Puasa Lebih Bermakna

Kamis, 12 Februari 2026 | 17:47 WIB
header img
Ilustrasi Ramadhan 2026. Foto: Istimewa

BOGOR, iNewsBogor.id Bulan suci Ramadhan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperdalam pemahaman fiqih puasa agar pelaksanaannya sesuai tuntunan syariat. Para ulama menegaskan, pemahaman fiqih Ramadhan harus merujuk pada Al-Qur’an serta hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih agar ibadah tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga benar secara hukum.

Kewajiban Puasa dalam Al-Qur’an

Kewajiban puasa Ramadhan ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Rukun Puasa Menurut Hadis Sahih

Secara fiqih, rukun puasa meliputi niat dan menahan diri dari pembatal sejak fajar hingga maghrib.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi – dinilai sahih)

Adapun batas waktu menahan diri dijelaskan dalam Al-Qur’an:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Perkara yang Membatalkan Puasa

Dalam fiqih yang bersumber dari hadis sahih, beberapa hal yang membatalkan puasa antara lain:

  • Makan dan minum dengan sengaja

  • Hubungan suami istri di siang hari Ramadhan

  • Muntah dengan sengaja

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa lupa lalu makan atau minum saat berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allah yang memberinya makan dan minum.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa yang membatalkan adalah perbuatan sengaja.

Keringanan (Rukhsah) dalam Puasa

Islam memberikan kemudahan bagi orang yang memiliki uzur, seperti sakit atau safar. Allah SWT berfirman:

“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ini menunjukkan prinsip syariat yang tidak memberatkan umat.

Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

Rasulullah SAW menganjurkan berbagai amalan untuk menyempurnakan puasa, di antaranya:

  • Makan sahur

    “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Menyegerakan berbuka

    “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Qiyamul lail dan Lailatul Qadar

    “Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan harap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan sebagai Madrasah Ketakwaan

Nabi Muhammad SAW menegaskan nilai spiritual puasa:

“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri dan perbaikan akhlak.

Dengan memahami fiqih Ramadhan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sahih, umat Islam diharapkan mampu menjalankan ibadah puasa secara benar, khusyuk, dan penuh makna, sehingga tujuan akhir Ramadhan—menjadi pribadi bertakwa—dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Ifan Jafar Siddik

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut