Fenomena Relasi Digital di Balik Kehidupan Tenaga Kesehatan di Sukabumi
BOGOR, iNewsBogor.id - Di sebuah sudut kota di Sukabumi, seorang perempuan menjalani hari seperti kebanyakan orang lain. Pagi dimulai lebih cepat dari matahari. Seragam kerja dikenakan, senyum disiapkan, dan langkah diarahkan menuju tempat ia mengabdi—ruang kecil tempat tangis pertama bayi sering kali terdengar.
Profesi sebagai tenaga kesehatan membuatnya akrab dengan harapan. Ia membantu kehidupan hadir ke dunia, menenangkan kecemasan para ibu, dan menjadi sosok yang dipercaya banyak keluarga. Dari luar, hidupnya tampak utuh: pekerjaan tetap, suami, serta seorang putri kecil yang menunggu di rumah.
Namun kehidupan manusia jarang sesederhana yang terlihat.
Ketika malam turun dan kesibukan mereda, dunia lain perlahan terbuka melalui layar ponsel. Di ruang digital yang sunyi itu, percakapan-percakapan baru muncul—ringan, cepat, tanpa beban masa lalu. Aplikasi pencarian jodoh, yang bagi sebagian orang adalah jalan menemukan pasangan, bagi sebagian lainnya menjadi ruang berbagi cerita yang tak sempat terucap di dunia nyata.
Beberapa orang mengenalnya dari sana. Percakapan yang bermula sapaan singkat kadang berlanjut lebih panjang. Tidak selalu tentang cinta, tidak selalu pula tentang keseriusan. Kadang hanya tentang didengar—atau sekadar memastikan dirinya masih dianggap penting oleh orang lain.
Dalam cerita yang beredar di lingkaran kecil, muncul pula gambaran lain: setiap kali dipertanyakan, selalu ada alasan yang disusun rapi. Setiap keraguan dijawab dengan pembenaran. Setiap tudingan dibalik menjadi kisah tentang dirinya yang merasa disalahpahami.
Sikap mencari pembelaan diri ini, menurut pengamat psikologi keluarga, kerap menjadi mekanisme pertahanan ketika seseorang belum siap menghadapi kenyataan yang tidak nyaman.
“Manusia cenderung melindungi citra dirinya. Pembenaran sering muncul bukan karena ingin menipu orang lain, tetapi karena sulit menerima kesalahan sendiri,” ujar seorang konselor keluarga.
Di ruang digital, batas antara cerita dan kenyataan memang mudah bergeser. Seseorang dapat memilih bagian mana yang ingin dipercaya orang lain—bahkan kadang juga oleh dirinya sendiri.
Bisik-bisik pun muncul dari rasa penasaran. Ada yang mencoba mencari tahu lebih jauh. Ada pula yang memilih diam, entah karena tak ingin terlibat atau karena merasa itu wilayah pribadi yang tak pantas disentuh.
Fenomena ini memperlihatkan wajah zaman yang semakin kompleks: teknologi mendekatkan yang jauh, tetapi pada saat yang sama bisa menciptakan jarak baru di dalam hubungan yang paling dekat.
Pada akhirnya, setiap keluarga menyimpan ruang yang tak sepenuhnya terlihat dari luar. Di balik penilaian cepat, selalu ada cerita yang lebih panjang—tentang kesepian, harapan, ketakutan, dan kebutuhan untuk dimengerti.
Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk percakapan digital serta berbagai pembenaran yang terus diulang, yang sebenarnya dicari bukan sekadar perhatian…
melainkan tempat pulang yang benar-benar terasa menerima apa adanya.
Editor : Ifan Jafar Siddik