Bidik Jadi Pemain Utama Ekonomi Syariah Global, Dekan FEM IPB: Pangsa Pasar Halal RI Masih Kecil
BOGOR, iNewsBogor.id – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal dan ekonomi syariah global. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal meski Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Irfan Syauqi Beik, mengatakan industri halal global saat ini tumbuh pesat dengan nilai ekonomi mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS dan pertumbuhan 8 hingga 10 persen per tahun.
Menurutnya, kontribusi Indonesia dalam rantai pasok produk halal dunia masih relatif kecil dibandingkan potensi yang dimiliki.
"Berdasarkan data Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), sebanyak 78 persen suplai industri makanan dan minuman halal dunia justru dikuasai negara-negara dengan populasi muslim minoritas. Negara anggota OKI hanya menyuplai 22 persen, dan dari angka tersebut pangsa Indonesia baru sekitar 4 persen," ujar Irfan kepada awak media.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan sistem secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk penguatan diplomasi perdagangan internasional agar produk halal Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Irfan menjelaskan Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), yang menempatkan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pembangunan nasional dalam 20 tahun ke depan.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah koordinasi antar-kementerian dan lembaga yang masih perlu diperkuat. Karena itu, ia mendorong penguatan peran Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah dengan meningkatkan statusnya menjadi badan struktural yang lebih mandiri.
"Saya menyarankan KNEKS ini di-upgrade menjadi badan. Nanti ia menjadi kepanjangan tangan Presiden untuk memonitor dan memastikan semua program pengembangan ekonomi syariah dari A sampai Z dilaksanakan dengan baik," tegasnya.
Irfan memaparkan tiga langkah strategis yang perlu diprioritaskan dalam lima tahun mendatang untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar ekonomi syariah global.
Pertama, meningkatkan edukasi dan literasi halal kepada masyarakat guna memperluas kesadaran dan pemahaman tentang ekonomi syariah.
Kedua, memperbaiki ekosistem kelembagaan, termasuk proses sertifikasi halal berbasis bukti (evidence-based), serta memperkuat diplomasi perdagangan internasional.
Ketiga, menyusun regulasi yang adaptif, fleksibel, namun tetap menjaga substansi dan prinsip-prinsip syariah.
Selain itu, Irfan menilai integrasi antara sektor keuangan komersial syariah dengan keuangan sosial syariah seperti zakat dan wakaf menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menyebut potensi zakat dan wakaf di Indonesia dapat mencapai Rp500 triliun per tahun apabila dikelola secara optimal.
"Ketika kesadaran agama dan kesadaran kemanusiaan digabung menjadi kekuatan ekonomi, efeknya akan sangat dahsyat," katanya.
Editor: Furqon Munawar