Lestarikan Budaya Sunda, Angklung Srikandi Bogor Ramaikan KULTURA di Kebun Raya Bogor
Menyesuaikan tema "Sunda Ngariung", seluruh repertoar yang dibawakan Angklung Srikandi Bogor merupakan lagu-lagu daerah Sunda yang sudah sangat dikenal masyarakat. Lagu seperti Panon Hideung, Es Lilin, hingga sejumlah lagu tradisional lainnya dimainkan selama kurang lebih 35 menit.
Penampilan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda yang hadir di lokasi acara.
Menariknya, Angklung Srikandi Bogor tidak hanya tampil pada acara pembukaan. Mereka juga dijadwalkan mengisi pertunjukan rutin setiap hari Sabtu selama pelaksanaan KULTURA Sunda Ngariung.
"Kami akan tampil secara rutin setiap Sabtu pukul 10.30 WIB selama program berlangsung. Ini menjadi kesempatan baik untuk terus mengenalkan angklung kepada masyarakat luas," jelas Ilham.
Tidak hanya menyuguhkan musik tradisional, para personel Angklung Srikandi Bogor juga tampil mengenakan batik khas Bogor bermotif Lereng Kujang Angklung yang semakin memperkuat nuansa budaya Sunda dalam pertunjukan tersebut.
Perwakilan Angklung Srikandi Bogor, sekaligus pemilik Batik Geulis Bogor Handayani, Sri Ratna Handayani Budhie mengatakan bahwa pelestarian budaya harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pertunjukan seni tetapi juga melalui pengenalan produk budaya lainnya seperti batik daerah.
"Hari ini kami mengenakan batik Bogor bermotif Lereng Kujang Angklung sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya lokal. Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Sunda memiliki kekayaan yang sangat luas," ujar Ratna.
Menurutnya, upaya menjaga budaya akan lebih efektif apabila masyarakat dapat terlibat langsung dalam prosesnya.
Karena itu, selain menikmati pertunjukan angklung, pengunjung juga dapat mengikuti workshop membatik yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan KULTURA Sunda Ngariung.
"Pengunjung bisa belajar membatik secara langsung menggunakan canting dan membawa pulang hasil karyanya. Ini menjadi pengalaman budaya yang menarik sekaligus edukatif," katanya.
Editor : Ifan Jafar Siddik