Indonesia Endowment Ecosystem: Pendidikan Anak Korban Bencana Jadi Fokus Dana Abadi Berbasis Wakaf
JAKARTA, iNewsBogor.id – Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan rumah dan fasilitas umum. Bagi keluarga terdampak, kehilangan penghasilan dan tempat tinggal juga bisa mengancam keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Indonesia Endowment Ecosystem, sebuah ekosistem dana abadi berbasis wakaf yang diperkenalkan melalui Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).
Salah satu fokus awal ekosistem tersebut adalah Dana Abadi Pendidikan, yang diarahkan untuk menciptakan sumber pembiayaan sosial jangka panjang, termasuk membuka peluang dukungan bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak bencana.
Melalui konsep dana abadi, dana yang dihimpun tidak hanya langsung dihabiskan untuk bantuan sesaat. Dana tersebut dikelola secara produktif sehingga manfaat yang dihasilkan dapat digunakan untuk membiayai program sosial secara berkelanjutan.

Chairman Indonesia Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf, Rendi Septiyan Nugraha, mengatakan pendekatan tersebut penting agar filantropi tidak berhenti pada pemberian bantuan dalam satu momentum.
“Kita ingin mendorong perubahan paradigma dalam filantropi, dari sekadar menghimpun dana menjadi membangun aset produktif yang dapat menopang program sosial dalam jangka panjang,” ujar Rendi.
Dalam situasi pascabencana, pendidikan anak sering menjadi salah satu kebutuhan yang berisiko terabaikan. Ketika keluarga kehilangan sumber penghasilan, biaya sekolah, perlengkapan belajar hingga kebutuhan pendidikan lainnya dapat menjadi beban tambahan.
Karena itu, Dana Abadi Pendidikan diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari beasiswa, infrastruktur sekolah hingga program pendidikan berkelanjutan.
"Model tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga agar anak-anak dari keluarga terdampak bencana tetap memiliki akses terhadap pendidikan, meskipun kondisi ekonomi keluarganya berubah drastis," tambahnya.
Pendekatan dana abadi juga memungkinkan dukungan diberikan dalam jangka lebih panjang, tidak hanya ketika bencana terjadi dan perhatian publik sedang tinggi.

Indonesia Endowment Ecosystem dibangun dengan tiga lapisan utama, yakni aset wakaf sebagai fondasi dana abadi, pengelolaan produktif untuk menghasilkan manfaat berkelanjutan, serta program sosial sebagai muara dampak bagi masyarakat. Rumah Wakaf berperan sebagai nazhir sekaligus ecosystem backbone dalam aspek tata kelola dan pengelolaan aset wakaf.
Sementara organisasi sosial seperti Rumah Zakat berperan sebagai impact owner, yang menjalankan program dan memastikan manfaat dana abadi benar-benar diterjemahkan menjadi dampak di lapangan.
Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat, Didi Sabir, mengatakan pengalaman membangun dana abadi menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan dampak sosial, khususnya di bidang pendidikan.
"Rumah Zakat telah mengembangkan jalur dana abadi melalui wakaf uang yang diamanahkan kepada Rumah Wakaf untuk dikelola. Dengan model tersebut, dana yang dihimpun dapat menjadi bagian dari sumber pembiayaan jangka panjang untuk program pendidikan dan sosial," jelasnya.
CEO SharingHappiness, Zaeni Ramdan, menilai teknologi digital memiliki peran penting dalam memperluas partisipasi masyarakat dalam model filantropi jangka panjang.
"Melalui SharingHappiness.org, masyarakat dapat terhubung dengan berbagai kampanye endowment sekaligus ekosistem pengelolaan wakaf," ujar Zaeni.

Platform tersebut tercatat memiliki lebih dari 1,2 juta donatur aktif dalam ekosistem dan dikembangkan sebagai digital gateway untuk berbagai kategori wakaf strategis. Keberadaan platform digital ini diharapkan dapat mempertemukan masyarakat yang ingin berdonasi dengan program-program sosial yang memiliki dampak jangka panjang.
Konsep dana abadi pendidikan membawa pesan bahwa bantuan kepada korban bencana tidak harus berhenti ketika masa tanggap darurat selesai. Ketika bantuan pangan, pakaian dan kebutuhan darurat mulai berkurang, anak-anak korban bencana tetap harus kembali belajar dan memiliki masa depan. Karena itu, dukungan pendidikan menjadi bagian penting dari pemulihan jangka panjang.
Indonesia Endowment Ecosystem mengembangkan empat portofolio dana abadi, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kemanusiaan. Namun pada tahap awal, pendidikan menjadi fokus pertama dalam pengembangan portofolio tersebut.
"Ke depan, dana abadi diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen yang menjaga keberlanjutan berbagai program sosial, termasuk membantu kelompok masyarakat rentan dan korban bencana agar dapat bangkit kembali. Indonesia Endowment Ecosystem menargetkan pengembangan ekosistem hingga 2028," tandasnya.
Pada 2026, fokus diarahkan pada peluncuran ekosistem, onboarding mitra pendiri dan regulator serta pembentukan tata kelola dasar.
Kemudian pada 2027, ekosistem ditargetkan memasuki fase ekspansi melalui perluasan portofolio dana abadi, penambahan kemitraan investasi dan pengembangan sistem pelaporan dampak terstandarisasi.
Pada 2028, ekosistem tersebut diarahkan menuju skala nasional lintas provinsi dan integrasi dengan kebijakan filantropi nasional.

Harapannya, setiap kontribusi masyarakat tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga ikut membangun sumber daya yang dapat menjaga pendidikan anak-anak korban bencana untuk tetap berlangsung hingga masa depan.
Editor: Furqon Munawar