Jejak Air di Balik Kecerdasan Buatan: Tantangan Ekologis di Era Komputasi
DOSEN ILMU LINGKUNGAN, FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS UNIVERSITAS IBN KHALDUN (UIKA) BOGOR
MUSIM kemarau senantiasa menjadi pengingat yang nyata akan betapa berharganya keberadaan sumber daya air. Di tengah kondisi ini, petani membutuhkan air untuk mengairi sawah, sektor rumah tangga mengandalkannya untuk kebutuhan minum, memasak, dan sanitasi, sementara sektor industri serta ekosistem alam seperti sungai dan hutan bergantung padanya untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Namun, di balik berbagai kebutuhan konvensional tersebut, hadir satu entitas pemanfaat air yang kerap tidak disadari oleh masyarakat luas, yakni teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Secara umum, interaksi masyarakat dengan aplikasi seperti ChatGPT dirasakan murni sebagai aktivitas digital yang serbacepat dan nirwujud tanpa memperlihatkan mesin, panas, maupun air. Padahal, di balik satu kueri atau pertanyaan yang dikirimkan pengguna, beroperasi infrastruktur fisik berupa komputer-komputer berkapasitas sangat besar di dalam pusat data (data center). Komputer berprosesor chip khusus ini mengonsumsi energi listrik dalam jumlah besar saat melakukan kalkulasi, yang secara alami menghasilkan pelepasan panas pada perangkat.
Untuk mencegah gangguan fungsional atau kerusakan pada komputer akibat panas berlebih, pusat data mengandalkan sistem pendingin, baik yang berbasis udara, air, cairan khusus, maupun teknologi canggih direct-to-chip cooling yang mengalirkan cairan pendingin langsung ke bagian terpanas mesin. Hal ini membuktikan bahwa AI tidak sekadar urusan algoritma dan perangkat lunak, melainkan ditopang oleh infrastruktur fisik yang sangat bergantung pada listrik dan air.

Dalam operasional sistem pendingin air, muncul persoalan dinamika hidrologi lokal. Meskipun sebagian air disirkulasikan kembali secara berulang, sebagian lainnya menguap ke udara dalam proses pembuangan panas. Walaupun air yang menguap tersebut tetap berada dalam siklus hidrologi bumi dan nantinya turun kembali sebagai hujan, air itu tidak serta-merta kembali ke lokasi asal dan sumber penarikan semula. Akibatnya, ekstraksi air dari sungai maupun air tanah dapat menguras ketersediaan air lokal di wilayah tempat pusat data beroperasi.
Editor: Furqon Munawar