Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Upstream Youth Champs 2026 Ajak Mahasiswa Pahami Masa Depan Energi dan Peluang Karier
Advertisement . Scroll to see content

Helbygoom, Camilan Fungsional dari Mata Tuna Karya Inovator IPB Tembus Food Ingredients Asia 2026

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:08 WIB
  • author Furqon Munawar
Helbygoom, Camilan Fungsional dari Mata Tuna Karya Inovator IPB Tembus Food Ingredients Asia 2026
Camilan multifungsi Helbygoom, karya inovator IPB University saat dipamerkan berikut produk lainnya di arena Food ingredients Asia (Fi Asia) 2026 di Jakarta.. (Foto : Istimewa)

BOGOR, iNewsBogor.d – Siapa sangka, mata ikan tuna yang selama ini menjadi hasil samping pengolahan perikanan dapat disulap menjadi camilan fungsional. Inovasi tersebut dikembangkan IPB University melalui produk bernama Helbygoom.

Helbygoom merupakan inovasi pangan yang memanfaatkan minyak dari mata tuna sebagai salah satu bahan utama. Produk karya Guru Besar IPB University sekaligus inovator, Prof Wini Trilaksani, tersebut diperkenalkan dalam ajang Food Ingredients Asia (FI Asia) 2026.

Helbygoom dipamerkan melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University, bersama 19 produk inovasi pangan dan nutraceutical lainnya.Food Ingredients Asia 2026 berlangsung pada 16-18 September 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta.

Kehadiran Helbygoom dalam ajang tersebut membuka peluang inovasi IPB untuk terhubung dengan pelaku industri pangan sekaligus memperluas jejaring pengembangan produk.

Prof Wini Trilaksani menjelaskan, inovasi Helbygoom berawal dari potensi kandungan DHA (docosahexaenoic acid) yang terdapat pada mata ikan tuna.Untuk memperoleh minyaknya, mata tuna diolah menggunakan metode cold centrifugation. Bahan dibersihkan dan dilumatkan, kemudian dipisahkan melalui proses sentrifugasi pada suhu rendah 4 derajat Celsius dengan kecepatan 10.000 rpm selama 30 menit.

Dari proses tersebut diperoleh minyak pada lapisan teratas yang kemudian dianalisis. Hasil analisis menunjukkan minyak tersebut memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi.

Kandungan DHA tercatat mencapai 33,44 persen, sementara total omega-3 mencapai 40,10 persen dari profil asam lemak minyak yang diperoleh. Minyak dari mata tuna tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi inovasi pangan laut dengan konsep menyerupai Turkish delight.

Produk ini dipadukan dengan serat yang berasal dari sumber daya akuatik, buah tropis, rempah, dan bunga. Formulasi Helbygoom juga dikembangkan dengan mengurangi penggunaan gula pasir. Tidak berhenti pada tahap riset, Helbygoom telah melalui sejumlah tahapan pengembangan, mulai dari formulasi, pengujian mutu, penerimaan konsumen hingga pengujian pasar awal.

Saat ini Helbygoom memiliki tujuh varian, yakni rosela, jeruk, buah naga, pandan, bunga telang, jahe, dan susu. Selain dikembangkan sebagai camilan fungsional, produk tersebut juga berpotensi menyasar berbagai kebutuhan konsumen, mulai dari makanan pendamping, oleh-oleh, hadiah, hamper, hingga produk retail.

Tidak hanya memamerkan produk, Prof Wini Trilaksani juga menjadi bagian dari Food Ingredients Asia Conference untuk mempresentasikan pengembangan marine-derived omega-3. Riset tersebut mengembangkan ekstraksi omega-3, khususnya DHA, dari mata tuna sebagai salah satu sumber bahan pangan fungsional.

Menurut Prof Wini, kehadiran dalam konferensi tersebut menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan hasil riset dengan perkembangan industri pangan.

“Kehadiran FI Asia Conference ini menjadi media yang sangat bagus. Tentu saja, mudah-mudahan dengan adanya FI Asia Conference ini akan semakin mendorong para peneliti untuk terus berinovasi dan melakukan riset yang terstruktur dengan baik,” ungkap Prof Wini Trilaksani.

Ia menambahkan, pengembangan inovasi membutuhkan pendekatan yang terarah. Salah satunya melalui prinsip quality by design, sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata.

Kehadiran Helbygoom di Food Ingredients Asia 2026 menunjukkan potensi pemanfaatan hasil samping perikanan menjadi produk pangan bernilai tambah.Inovasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana proses riset di perguruan tinggi dapat diarahkan menuju pengembangan produk, pengujian pasar, hingga peluang hilirisasi dan pemanfaatan dalam industri pangan.

Editor: Furqon Munawar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut