Hari Santri 2026, Zenal Abidin Dorong Santri Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Akhlak
Tantangan santri saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu perjuangan santri identik dengan perlawanan terhadap penjajahan, kini perjuangan tersebut perlu dilanjutkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian Zenal adalah derasnya arus informasi di era digital.
Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Santri tidak boleh langsung menerima setiap informasi yang diterima, terlebih jika sumbernya tidak jelas atau kebenarannya belum dapat dipastikan.
Pesantren, menurutnya, memiliki peran penting dalam membentuk pribadi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu menyikapi perkembangan informasi secara bijak.
Santri perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan memastikan kebenaran sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
Prinsip tersebut semakin relevan ketika teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi dapat membantu proses belajar dan pekerjaan, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa secara kritis.
Kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Santri perlu memahami bahwa kecakapan digital bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan perangkat, melainkan juga tentang bagaimana teknologi digunakan secara benar, aman, dan bermanfaat.
Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu menjadi bagian dari masyarakat digital yang produktif sekaligus ikut mencegah penyebaran informasi keliru.
Santri Tidak Harus Menjadi Ustaz, Peluang Profesi Harus Terbuka
Zenal berpandangan bahwa santri tidak seharusnya membatasi cita-cita hanya pada profesi yang selama ini identik dengan kehidupan pesantren.
Santri tetap dapat menekuni bidang keagamaan, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi dokter, insinyur, guru, jurnalis, pengacara, peneliti, birokrat, profesional di sektor industri, hingga pengusaha.
Baginya, setiap santri memiliki potensi yang perlu dikembangkan sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
"Santri jangan merasa minder atau merasa tertinggal. Santri harus bisa menjadi yang terdepan, setidaknya untuk dirinya sendiri, kemudian memberikan contoh yang baik kepada keluarga dan masyarakat," menjadi pesan yang sejalan dengan pandangannya mengenai masa depan santri.
Untuk mewujudkan hal tersebut, akses terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional perlu diperluas. Pendidikan pesantren dapat tetap mempertahankan kekhasan tradisi keislamannya sambil memberikan ruang lebih besar bagi santri untuk mempelajari perkembangan dunia modern.
Menurutnya, modernisasi pesantren tidak berarti menghilangkan identitas atau mengubah seluruh sistem pendidikan menjadi sekolah umum. Sebaliknya, pengembangan pendidikan harus membantu santri menghadapi kehidupan yang semakin kompleks tanpa kehilangan fondasi agama dan akhlak.
Editor: Ifan Jafar Siddik