BOGOR, iNewsBogor.id - IPB University menawarkan teknologi biointensif sebagai solusi strategis menghadapi dampak krisis di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global dan menekan sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Ivanovic Agusta, dalam konferensi pers bertajuk Adaptasi Petani Nusantara Menghadapi Dampak Perang di Timur Tengah di Bogor, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, gejolak harga energi akibat konflik global justru menjadi momentum untuk mendorong inovasi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Situasi ini harus dijadikan peluang untuk mempercepat transformasi pertanian menuju sistem yang hemat energi dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Suryo Wiyono, menjelaskan konflik global berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi pupuk dunia.
Ia menyebut kawasan Teluk memproduksi sekitar 40 persen pupuk nitrogen global, sehingga gangguan pasokan gas alam (LNG) sebagai bahan baku utama berpotensi menghambat produksi.
“Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Sekitar 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini menghadapi hambatan logistik serta lonjakan biaya pengiriman,” jelasnya.
Selain itu, konflik turut berdampak pada pasar ekspor produk pertanian Indonesia. Negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi merupakan tujuan utama ekspor buah Indonesia setelah China.
Krisis energi global menyebabkan lonjakan harga sarana produksi pertanian. Harga pupuk nitrogen tercatat naik hingga 32,4 persen, sementara pestisida diperkirakan meningkat 20–30 persen.
Kenaikan harga BBM juga berdampak pada biaya transportasi dan operasional alat mesin pertanian, yang pada akhirnya menekan keuntungan petani.
Sebagai respons, IPB University mendorong penerapan teknologi biointensif dalam sistem pertanian nasional.
“Pendekatan ini mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil produksi,” ungkap Prof Suryo.
Teknologi ini juga mendorong penggunaan pupuk alami, peningkatan bahan organik tanah, serta efisiensi penggunaan air dan energi.
Selain itu, petani didorong memanfaatkan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, dan energi angin guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Penerapan sistem biointensif pada komoditas padi menunjukkan hasil signifikan, antara lain:
- Produktivitas meningkat hingga 24 persen
- Biaya produksi turun sekitar 20 persen
- Penggunaan pupuk berkurang 30 persen
- Penggunaan pestisida turun hingga 77 persen
Uji coba di berbagai daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, hingga Bojonegoro menunjukkan metode ini lebih unggul dibandingkan sistem konvensional.
IPB juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi komunitas melalui inovasi teknologi ramah lingkungan, penguatan pasar lokal, serta pengembangan usaha berbasis rumah tangga.
“Dengan berbagai keunggulan tersebut, teknologi biointensif dapat menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global,” tandas Prof Suryo.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
