Berdasarkan data global, sekitar 92 juta pekerjaan diprediksi akan hilang pada 2030, sementara 170 juta jenis pekerjaan baru akan muncul dengan kebutuhan keterampilan yang berbeda.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia, mengingat sebagian besar angkatan kerja masih didominasi lulusan pendidikan menengah dan bekerja di sektor informal.
Di sisi lain, peluang kerja terus terbuka. Realisasi investasi nasional yang mencapai ratusan triliun rupiah pada triwulan pertama 2026 mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Namun, peluang tersebut dinilai hanya bisa dimanfaatkan oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Yassierli juga menekankan bahwa tren rekrutmen kini telah bergeser. Dunia industri tidak lagi hanya mengandalkan ijazah sebagai tolok ukur utama.
“Ke depan, yang dilihat bukan sekadar gelar, tetapi kemampuan nyata. Skill akan menjadi kunci,” tegasnya.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
