BOGOR, iNewsBogor.id - Banyak dari kita yang sering kali terjebak dalam delusi rasa aman yang semu. Kita merasa tenang karena memegang slip gaji bulanan, merasa aman karena memiliki kontrak kerja yang mapan, atau merasa pasti karena bisnis sedang berada di atas angin. Tanpa sadar, kita sering menyempitkan arti rezeki sebatas pada apa yang dihasilkan oleh tenaga dan waktu yang kita tukarkan.
Padahal, ada satu hakikat yang tidak boleh luntur dari keimanan kita bahwa rezeki dari Allah tidak pernah tergantung pada gaji.
Gaji hanyalah salah satu saluran kecil dari samudra rezeki Allah yang tak bertepi. Gaji datang dari perusahaan atau pemberi kerja, sedangkan rezeki datang langsung dari pemilik alam semesta.
Ketika kita menggantungkan rasa tenang hanya pada nominal gaji, kita sedang membatasi kemahakuasaan Allah. Bukankah kita sering melihat:
Ada orang yang gajinya besar, namun habis tak berbekas untuk biaya rumah sakit atau tuntutan gaya hidup yang melelahkan.
Di sisi lain, ada orang dengan penghasilan yang menurut hitungan matematika manusia "tidak cukup", namun hidupnya penuh ketenangan, anak-anaknya saleh, dan kebutuhan tak terduganya selalu terpenuhi.
Allah memberi rezeki dari arah mana saja yang Dia kehendaki. Jika Allah menutup satu pintu bernama gaji, Dia sangat mudah membuka seribu pintu lain yang bahkan tidak pernah melintasi sejumput pikiran kita.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
