BOGOR, iNewsBogor.id - Banyak dari kita yang sering kali terjebak dalam delusi rasa aman yang semu. Kita merasa tenang karena memegang slip gaji bulanan, merasa aman karena memiliki kontrak kerja yang mapan, atau merasa pasti karena bisnis sedang berada di atas angin. Tanpa sadar, kita sering menyempitkan arti rezeki sebatas pada apa yang dihasilkan oleh tenaga dan waktu yang kita tukarkan.
Padahal, ada satu hakikat yang tidak boleh luntur dari keimanan kita bahwa rezeki dari Allah tidak pernah tergantung pada gaji.
Gaji hanyalah salah satu saluran kecil dari samudra rezeki Allah yang tak bertepi. Gaji datang dari perusahaan atau pemberi kerja, sedangkan rezeki datang langsung dari pemilik alam semesta.
Ketika kita menggantungkan rasa tenang hanya pada nominal gaji, kita sedang membatasi kemahakuasaan Allah. Bukankah kita sering melihat:
Ada orang yang gajinya besar, namun habis tak berbekas untuk biaya rumah sakit atau tuntutan gaya hidup yang melelahkan.
Di sisi lain, ada orang dengan penghasilan yang menurut hitungan matematika manusia "tidak cukup", namun hidupnya penuh ketenangan, anak-anaknya saleh, dan kebutuhan tak terduganya selalu terpenuhi.
Allah memberi rezeki dari arah mana saja yang Dia kehendaki. Jika Allah menutup satu pintu bernama gaji, Dia sangat mudah membuka seribu pintu lain yang bahkan tidak pernah melintasi sejumput pikiran kita.
Antara yang Diduga dan yang Tak Terduga
Allah Ta'ala berfirman:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
فَاِذَا بَلَغۡنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمۡسِكُوۡهُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ اَوۡ فَارِقُوۡهُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ وَّاَشۡهِدُوۡا ذَوَىۡ عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ وَاَقِيۡمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ؕ ذٰ لِكُمۡ يُوۡعَظُ بِهٖ مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ ۙ وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا
وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا
Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS: At-Talaq Ayat 2-3)
Rezeki yang diduga adalah matematika manusia. Anda bekerja, Anda dibayar. Namun, rezeki yang tak terduga adalah matematika Allah: diskon kesehatan yang membuat Anda jarang berobat, tetangga yang tiba-tiba mengantar makanan, anak yang cerdas dan berbakti, hingga terhindarnya Anda dari musibah di jalan raya. Semua itu adalah bentuk rezeki yang nilainya jauh melampaui angka digital di rekening bank.
Kita sering kali terlalu cemas memikirkan hari esok karena kita menghitung masa depan dengan logika kantong kita, bukan dengan logika kemahakayaan Allah.
Merdekakan Jiwa dari Rasa Cemas
Menyadari bahwa rezeki milik Allah sepenuhnya adalah sebuah kemerdekaan jiwa. Ketika prinsip ini tertanam kuat di dalam dada, maka kita tidak akan menjadi hamba yang menjilat.
Sebagai umat Islam tentu tidak akan mengorbankan harga diri atau melanggar syariat demi menyenangkan atasan, karena kita tahu atasan bukanlah pemberi rezeki kita yang sesungguhnya.
Kita tidak akan dihinggapi penyakit dengki melihat pencapaian atau kekayaan orang lain, karena kita tahu Allah membagi rezeki-Nya dengan keadilan yang mutlak, sesuai dengan apa yang terbaik bagi setiap hamba.
Bekerja dan berikhtiar adalah kewajiban kita sebagai bentuk ibadah dan penjemputan sebab. Namun, serahkan hasilnya total kepada Allah. Tugas kita hanyalah memastikan bahwa setiap suap nasi yang masuk ke dalam mulut kita dan keluarga didapatkan dengan cara yang halal.
Tenanglah, rezeki itu milik Allah sepenuhnya. Dan Allah tidak pernah ingkar janji kepada hamba-hamba-Nya yang berserah diri.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
