Karena itu, pesantren dapat memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi, industri, lembaga profesi, dan dunia usaha.
Program pelatihan, magang, proyek kolaboratif, serta pendampingan alumni dapat menjadi jembatan bagi santri untuk mengenali dunia profesional dan mempersiapkan diri memasuki berbagai sektor pekerjaan.
Meski demikian, pengembangan tersebut perlu disesuaikan dengan visi pendidikan, sumber daya, dan kebutuhan masing-masing pesantren. Tidak semua pesantren harus berorientasi pada teknologi atau bisnis, tetapi setiap santri perlu memperoleh kesempatan yang memadai untuk mengembangkan potensinya.
Menghormati Guru dan Ulama, Dimulai dari Lingkungan Keluarga
Di tengah tuntutan untuk menguasai teknologi dan meningkatkan kompetensi, Zenal mengingatkan agar santri tidak melupakan nilai dasar yang diajarkan di pesantren, yakni adab dan akhlak.
Menurutnya, salah satu tradisi penting dalam kehidupan santri adalah menghormati guru dan ulama. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui perilaku terhadap orang tua, keluarga, dan masyarakat.
Santri yang dikenal memiliki penghormatan tinggi kepada guru juga diharapkan mampu membanggakan keluarga melalui sikap, prestasi, dan tanggung jawabnya.
Pendidikan karakter, dalam pandangannya, tidak cukup ditunjukkan melalui penampilan atau simbol keagamaan. Nilai tersebut harus terlihat dalam cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan persoalan, serta menjalankan amanah.
Di lingkungan pemerintahan, prinsip yang sama dapat diterapkan melalui pelayanan kepada masyarakat, keterbukaan terhadap aspirasi, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas.
Dengan begitu, identitas santri tidak berhenti pada latar belakang pendidikan, tetapi menjadi nilai yang memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Pesantren Perlu Membuka Diri terhadap Perkembangan Zaman
Perluasan kompetensi santri membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Pesantren dapat memperkuat pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Perguruan tinggi dapat membuka ruang kolaborasi akademik, sementara dunia usaha dapat memberikan pengalaman kerja dan pelatihan keterampilan profesional.
Pemerintah juga dapat mendukung perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.
Kolaborasi tersebut penting agar potensi santri tidak terhambat oleh keterbatasan akses dan kesempatan.
Bagi Zenal, tradisi keilmuan pesantren dan kemajuan teknologi tidak harus ditempatkan dalam dua kutub yang berlawanan. Keduanya dapat berjalan bersama selama pengembangan ilmu tetap disertai tanggung jawab, etika, dan tujuan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pesantren dapat mempertahankan tradisi pengkajian kitab, penguatan ibadah, dan pendidikan akhlak sekaligus membuka kesempatan bagi santri untuk mempelajari sains, teknologi, bahasa asing, dan keterampilan profesional.
Dengan pendekatan tersebut, santri diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan inovasi dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
