APBN 2026 Uji Arah Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Selain BUMN, keterlibatan badan usaha milik swasta (BUMS) di sektor pertahanan juga mulai berkembang. PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia, misalnya, telah memproduksi selongsong peluru, proyektil, serta komponen mekanik presisi untuk berbagai platform militer.
Sementara PT Republik Defensindo terlibat dalam produksi kendaraan militer dan pengembangan fasilitas amunisi bersama BUMN pertahanan.
Kehadiran sektor swasta dinilai memperluas basis industri pertahanan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor komponen. Namun arah kebijakan pengadaan strategis masih menjadi perhatian, terutama terkait rencana pembelian jet tempur Rafale, wacana akuisisi kapal induk ringan, serta modernisasi alutsista laut dan udara lainnya.
Sejumlah pengamat menilai pengadaan bernilai besar tersebut berpotensi menyerap porsi signifikan anggaran tanpa dampak optimal bagi industri nasional apabila tidak disertai kewajiban offset dan alih teknologi yang kuat.
Di sisi lain, kebutuhan menjaga kesiapan pertahanan tetap menjadi pertimbangan pemerintah. Kemandirian teknologi tingkat tinggi diakui belum dapat dicapai sepenuhnya dalam jangka pendek, sehingga impor tertentu masih diperlukan untuk menutup kesenjangan kemampuan.
Editor : Ifan Jafar Siddik