Hotel Sayaga: Antara Aset Pemda, Dugaan Penyimpangan, dan Bisnis Perhotelan
Jangan Terjebak Angka Laba
Pembagian laba 96 persen untuk Sayaga dan 4 persen untuk operator memang terlihat menguntungkan di atas kertas. Namun angka tersebut tidak bisa diterima begitu saja tanpa transparansi.
Dalam bisnis perhotelan, keuntungan tidak hanya ditentukan oleh persentase laba akhir. Banyak faktor lain seperti struktur biaya operasional, fee manajemen, serta berbagai pos pengeluaran yang dapat memengaruhi aliran keuntungan sebenarnya.
“Jangan sampai angka besar itu hanya menjadi kosmetik komunikasi, sementara manfaat ekonominya diam-diam mengalir melalui berbagai struktur biaya yang tidak dijelaskan kepada publik,” kata Achmad.
Preseden Buruk Tata Kelola
Achmad menilai pola kebijakan seperti ini berpotensi menciptakan preseden buruk. Pemerintah membangun proyek dengan dana publik, muncul pertanyaan soal efisiensi atau dugaan penyimpangan, lalu ketika aset hampir selesai pengelolaannya diserahkan kepada pihak ketiga atas nama profesionalisme.
Dalam jangka pendek langkah tersebut mungkin terlihat pragmatis. Namun dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat merusak akal sehat kebijakan publik.
Editor : Suriya Mohamad Said