get app
inews
Aa Text
Read Next : Keberanian Korban Pelecehan di Transjakarta: Rekam Kejadian Lalu Labrak Pelaku

WFA, Hemat Energi atau Sekadar Memindahkan Beban?

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:00 WIB
header img
WFA berpotensi hemat energi dengan kurangi mobilitas, tapi tak cukup. Perlu transportasi publik, efisiensi gedung, digitalisasi, dan reformasi sistem energi nasional. Foto Pakar Kebijakan Publik Achmad Nur Hidayat/Ist

Masalah Utamanya Ada pada Sistem

Karena itu, kebijakan WFA harus dilihat sebagai bagian dari strategi, bukan tujuan akhir. Masalah energi Indonesia bukan hanya soal kehadiran pegawai di kantor, tetapi juga soal bagaimana kota dibangun, bagaimana orang bergerak, dan bagaimana gedung pemerintah beroperasi. Kalau akar persoalannya adalah transportasi boros, gedung boros, dan layanan publik yang masih menuntut tatap muka berulang, maka WFA hanya mengurangi tekanan sesaat.

Pemerintah tidak boleh berhenti pada solusi yang sifatnya administratif. WFA memang bisa membantu, tetapi hanya dalam skala terbatas. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik dalam cara negara menggunakan energi.

Selain WFA, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah

Pertama, pemerintah harus mempercepat perbaikan transportasi publik massal. Inilah cara paling efektif untuk menghemat energi dalam jangka panjang. Selama jutaan orang masih bergantung pada kendaraan pribadi, konsumsi bahan bakar akan tetap tinggi. WFA hanya mengurangi sebagian perjalanan, sedangkan transportasi publik yang efisien mengubah pola perjalanan secara permanen.

Kedua, pemerintah harus membenahi konsumsi energi di gedung gedung negara. Penghematan harus dimulai dari kantor pemerintah sendiri. Tidak masuk akal jika negara mengampanyekan efisiensi, tetapi kantor pemerintah tetap boros listrik, pendingin ruangan, dan kendaraan dinas. Audit energi, pengaturan suhu pendingin ruangan, penggunaan lampu hemat energi, serta pengawasan konsumsi listrik harus menjadi standar, bukan sekadar imbauan.

Ketiga, digitalisasi layanan publik harus dipercepat. Banyak perjalanan warga dan aparatur sebenarnya tidak perlu terjadi jika pelayanan sudah sepenuhnya digital. Rapat daring, tanda tangan elektronik, perizinan online, dan integrasi data antarlembaga dapat memangkas mobilitas yang selama ini dianggap biasa. Dalam hal ini, digitalisasi bukan hanya soal kemudahan, tetapi juga instrumen penghematan energi.

Keempat, efisiensi kendaraan dan diversifikasi energi harus terus diperkuat. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien, kendaraan rendah emisi, serta penguatan energi alternatif perlu ditempatkan dalam kerangka besar penghematan nasional. Penghematan energi tidak cukup dicari dari perubahan kebiasaan kerja, tetapi juga dari pembaruan teknologi dan kebijakan sektor energi.

Editor : Suriya Mohamad Said

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut