WFA, Hemat Energi atau Sekadar Memindahkan Beban?
Dari Kebijakan Musiman ke Perubahan Kebiasaan
Masalah lain dari WFA adalah sifatnya yang sering musiman. Ia biasanya muncul saat arus mudik, kemacetan tinggi, atau situasi tertentu. Setelah itu, pola lama kembali berjalan. Padahal penghematan energi memerlukan perubahan kebiasaan yang lebih permanen. Pemerintah perlu merancang pola kerja fleksibel yang berbasis kebutuhan sektor, target kinerja, dan efisiensi energi yang terukur.
Kita harus mengubah cara pandang. Hemat energi bukan sekadar mematikan lampu atau mengurangi perjalanan satu dua hari. Hemat energi adalah soal mendesain ulang cara negara bekerja dan cara kota bergerak. Dalam kerangka itu, WFA memang penting, tetapi ia hanyalah pintu masuk.
Catatan penting
Jadi, apakah WFA berpengaruh terhadap penghematan energi? Jawabannya ya, tetapi dengan syarat. WFA bisa menekan konsumsi energi terutama melalui pengurangan perjalanan harian, khususnya di kota besar yang macet dan bergantung pada kendaraan pribadi. Namun dampaknya tidak akan signifikan jika kantor tetap boros dan sistem transportasi serta layanan publik tidak dibenahi.
Karena itu, selain WFA, pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih mendasar, yaitu memperkuat transportasi publik, menertibkan konsumsi energi gedung pemerintah, mempercepat digitalisasi layanan, dan mendorong efisiensi kendaraan serta diversifikasi energi. Dengan cara itu, penghematan energi tidak berhenti sebagai kebijakan sesaat, tetapi menjadi bagian dari reformasi kebijakan publik yang lebih serius dan berkelanjutan.
Editor : Suriya Mohamad Said