get app
inews
Aa Text
Read Next : Peluncuran Koperasi Merah Putih, Wali Kota Dedie Soroti Peran Koperasi

Tanggapi Guru Besar UI Rhenald Kasali, Ketua ASKES: KDMP Bukan Ancaman Tetapi Alat Kontrol Pasar

Selasa, 02 Juni 2026 | 13:28 WIB
header img
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (ASKES), Suroto. (Foto : Istimewa)

BOGOR, iNewsBogor.id – Polemik mengenai keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) kembali mencuat setelah Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengunggah video di akun Instagram pribadinya yang menyoroti penutupan sejumlah gerai ritel modern di Lombok, Nusa Tenggara Barat, serta mengkritisi prospek Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam video yang diunggah pada 22 Mei 2026, Rhenald menegaskan bahwa keberpihakan kepada UMKM dan koperasi penting dilakukan, namun tidak boleh memusuhi persaingan usaha.

Pernyataan tersebut sontak mendapat respons keras dari Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) sekaligus aktivis koperasi, Suroto. Menurutnya, pandangan Rhenald Kasali justru menunjukkan ketidakpahaman terhadap konsep dan tujuan pembentukan KDKMP.

"KDKMP dibangun bukan untuk mematikan persaingan, melainkan menciptakan keseimbangan pasar dan memperkuat posisi masyarakat sebagai pemilik sekaligus penerima manfaat ekonomi. Ini berbeda dengan perusahaan ritel yang orientasinya keuntungan pemegang modal," kata Suroto dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (2/6/2026).

Menurut Suroto, penutupan sejumlah gerai minimarket di Lombok tidak dapat langsung dikaitkan dengan keberadaan KDKMP.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melakukan penutupan karena persoalan perizinan dan kepatuhan terhadap regulasi daerah. Hal ini juga telah disampaikan oleh Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Suroto menjelaskan, pembangunan KDKMP merupakan implementasi Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian Indonesia harus disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

"Sejak awal Bung Hatta sudah menjelaskan bahwa bentuk usaha yang paling sesuai dengan asas kekeluargaan adalah koperasi. Jadi keberadaan KDKMP bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga amanat konstitusi," ujarnya.

Ia menilai keberadaan jaringan ritel modern yang terus berkembang hingga pelosok daerah perlu diimbangi dengan penguatan ekonomi berbasis masyarakat agar distribusi barang dan keuntungan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok usaha besar.

Lebih lanjut, Suroto menyebut KDKMP dirancang menjadi jalur distribusi kebutuhan pokok masyarakat, termasuk penyaluran barang subsidi seperti LPG 3 kilogram, pupuk bersubsidi, beras SPHP, hingga Minyakita.

"Koperasi ini hadir untuk memastikan barang kebutuhan masyarakat tersedia dengan harga yang wajar dan tepat sasaran. Keuntungan usaha juga kembali kepada anggota dan masyarakat desa," jelasnya.

Menurutnya, model koperasi serupa telah berhasil diterapkan di Singapura melalui jaringan ritel koperasi NTUC FairPrice yang mampu menjadi pemain utama di sektor distribusi sekaligus menjaga stabilitas harga bagi konsumen.

Suroto menilai pandangan Rhenald Kasali yang membandingkan KDKMP dengan kegagalan Koperasi 212 tidak relevan karena memiliki karakteristik, model bisnis, dan dukungan kelembagaan yang berbeda.

"Yang dibangun pemerintah saat ini adalah sistem ekonomi berbasis kepemilikan kolektif masyarakat desa. Jadi tidak tepat jika disamakan dengan kasus koperasi tertentu yang memiliki konteks berbeda," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa koperasi lahir dari filosofi kerja sama atau cooperation, yang secara mendasar berbeda dengan model bisnis yang bertumpu pada kompetisi semata.

"Persaingan penting, tetapi kerja sama juga penting. Koperasi hadir untuk memastikan kesejahteraan bersama, bukan hanya keuntungan segelintir pemilik modal," tegasnya.

Selanjutnya, menurut Suroto, sangat keliru pandangan Rhenald Kasali yang menganggap KDKMP merupakan ancaman bagi dunia usaha.

"Menganggap KDKMP sebagai ancaman bagi persaingan usaha itu keliru. Padahal koperasi dibangun untuk memperkuat posisi masyarakat dalam pasar dan menciptakan distribusi ekonomi yang lebih adil," jelasnya.

Suroto menilai justru sebaliknya, KDKMP dapat bersaing dengan ritel modern. "Tujuan didirikannya KDMP bukan semata bersaing. Kehadirannya untuk menjadi instrumen ekonomi rakyat, menjaga harga tetap terjangkau, serta memastikan keuntungan usaha kembali kepada masyarakat desa," pungkasnya.

Oleh karena itu, sebagai Ketua ASKES, Suroto berharap KDMP kedepan akan semakin berkembang besar dan berkelanjutan.Guna memastikan ekonomi rakyat tumbuh di lingkungan persaingan sehat. 

Editor : Furqon Munawar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut