Gaji Ada Batasnya, Rezeki Tak Ada Tepinya: Lalu, Mengapa Sering Keliru Berharap?
Menyadari bahwa rezeki milik Allah sepenuhnya adalah sebuah kemerdekaan jiwa. Ketika prinsip ini tertanam kuat di dalam dada, maka kita tidak akan menjadi hamba yang menjilat.
Sebagai umat Islam tentu tidak akan mengorbankan harga diri atau melanggar syariat demi menyenangkan atasan, karena kita tahu atasan bukanlah pemberi rezeki kita yang sesungguhnya.
Kita tidak akan dihinggapi penyakit dengki melihat pencapaian atau kekayaan orang lain, karena kita tahu Allah membagi rezeki-Nya dengan keadilan yang mutlak, sesuai dengan apa yang terbaik bagi setiap hamba.
Bekerja dan berikhtiar adalah kewajiban kita sebagai bentuk ibadah dan penjemputan sebab. Namun, serahkan hasilnya total kepada Allah. Tugas kita hanyalah memastikan bahwa setiap suap nasi yang masuk ke dalam mulut kita dan keluarga didapatkan dengan cara yang halal.
Tenanglah, rezeki itu milik Allah sepenuhnya. Dan Allah tidak pernah ingkar janji kepada hamba-hamba-Nya yang berserah diri.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar