Kemarau Panjang, Ribuan Warga Jasinga Bogor Terpaksa Gunakan Air Kubangan untuk Kebutuhan
BOGOR, iNewsBogor.id – Krisis air bersih akibat musim kemarau panjang melanda Desa Barengkok, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Selama dua bulan terakhir, ribuan warga terpaksa memanfaatkan air kubangan yang keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumber air mengering.
Pemandangan memilukan terlihat di Kampung Pamatang. Warga rela mengantre dan menimba air dari kubangan menggunakan ember yang diikat tali, Kamis (24/7/2026).
Air berwarna keruh tersebut kemudian dibawa pulang dengan ember dan jeriken untuk digunakan mandi, mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan lainnya.
Selain krisis air bersih, kemarau berkepanjangan juga memukul sektor pertanian. Sawah tadah hujan di Desa Barengkok mengalami gagal panen karena tanaman padi tidak mendapatkan pasokan air yang cukup. Hamparan sawah tampak mengering dengan tanah retak-retak, sementara aliran sungai di sekitar lokasi juga sudah tidak lagi mengalir.
Ulfa, salah seorang warga, mengaku terpaksa menggunakan air kubangan karena tidak memiliki pilihan lain. Ia berharap bantuan air bersih segera datang agar warga tidak terus mengonsumsi air yang kualitasnya tidak layak.

"Kami terpaksa memakai air kubangan karena sumur sudah kering. Air ini dipakai untuk kebutuhan sehari-hari meski kondisinya keruh," ujar Ulfa.
Kepala Desa Barengkok, Hermawan Setiawan, mengatakan berdasarkan pendataan pemerintah desa, enam dari delapan RW terdampak kekeringan. Sedikitnya 2.955 kepala keluarga atau hampir 9.000 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
"Desa Barengkok tidak memiliki jaringan irigasi dan selama ini hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pasokan air. Saat kemarau panjang seperti sekarang, hampir seluruh sumber air mengering," kata Hermawan.
Pemerintah desa berharap bantuan distribusi air bersih dapat segera ditingkatkan. Selain itu, warga juga meminta adanya solusi jangka panjang berupa pembangunan jaringan air bersih dan irigasi agar krisis serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Editor : Furqon Munawar