Rektor UIKA Bogor Buka 3rd IICASS 2026: Konferensi Digelar Paralel di Bogor dan Kelantan
Menurutnya, kecerdasan tanpa integritas dapat melahirkan korupsi, teknologi tanpa tanggung jawab dapat menciptakan bentuk kerusakan baru, dan kekuasaan tanpa keadilan dapat melahirkan penindasan. Karena itu, ia berharap konferensi ini menghasilkan temuan ilmiah yang dapat diimplementasikan dengan karakter yang baik demi terwujudnya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Rektor menutup sambutannya dengan tiga bait pantun yang mengukuhkan persaudaraan UIKA Bogor dan UMK serta Indonesia dan Malaysia.
Dari Kelantan, Deputy Vice-Chancellor (Research and Innovation) UMK, Prof. Dr Wan Ahmad Amir Zal bin Wan Ismail, menyampaikan keynote speech yang menekankan pentingnya kolaborasi kedua negara dalam menjawab tantangan global.
Pembukaan turut dihadiri Ketua Pembina YPIKA, Dr. H. Didi Hilman, S.H., M.H., M.Pd.I.; Ketua Senat Akademik UIKA Bogor, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.; para Wakil Rektor UIKA Bogor: Prof. Dr. Hj. Maemunah Sa’diyah, M.Ag., Dr. Budi Susetyo, Ir., M.Si., Hambari, M.A., Ph.D., and Prof. Dr. Widyasari, M.Pd., serta pimpinan fakultas dari kedua universitas.
Lima Pembicara dari Empat Negara
Sesi pembicara undangan yang dipandu moderator Dr. Popy Novita Pasaribu, S.T.P., M.B.Sy., menghadirkan lima narasumber dari Indonesia, Malaysia, Tiongkok, dan Maroko.Dr. Rimun Wibowo, SP., M.Si., Principal Social Safeguards Equator Group yang juga Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor, membuka sesi dengan paparan berjudul "Challenges in Implementing Social Safeguards on Infrastructure Projects in Indonesia". Ia membandingkan tiga proyek yang dibiayai ADB, JICA, dan KfW, yakni pengendalian banjir di Banten dan Maluku, Jalan Tol Akses Patimban di Subang, serta panas bumi Ulumbu dan Mataloko di Flores, dan menemukan bahwa kesenjangan antara standar lembaga pembiaya dan praktik di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah terbesar Indonesia.
Assoc. Prof. Dr. Hadhrami bin Ab. Ghani, Dekan Fakulti Sains Data dan Komputeran UMK, menawarkan pendekatan berbasis data. Menurutnya, kecerdasan buatan, komputasi geospasial, dan registri sosial yang dinamis dapat membantu pemerintah mengenali rumah tangga rentan sebelum pembangunan dimulai, bukan berbulan-bulan sesudahnya.
Editor: Furqon Munawar