Prof Budi Setiawan Jadi Guru Besar IBI Kesatuan, Soroti Tantangan Perubahan Perilaku
Dari rangkaian penelitian tersebut, Prof. Budi mengusulkan tiga pilar pemasaran sosial berkelanjutan. Ketiganya dirancang untuk menjembatani kesadaran masyarakat dengan tindakan nyata.
Pilar pertama adalah aktivasi kesadaran dan norma moral. Masyarakat perlu memahami dampak perilakunya dan membangun tanggung jawab untuk melakukan perubahan.
Pilar kedua adalah efikasi diri dan infrastruktur. Selain memiliki kemauan, individu harus merasa mampu bertindak dan mendapatkan dukungan fasilitas yang memadai.
Pilar ketiga adalah keselarasan pasar dan kepemimpinan. Perubahan perilaku perlu diperkuat oleh kebijakan, kepemimpinan organisasi, serta pilihan yang memudahkan masyarakat menjalankan kebiasaan berkelanjutan.
Melalui tiga pilar tersebut, sasaran pemasaran sosial diperluas. Perubahan tidak hanya diarahkan kepada individu, tetapi juga pelaku usaha, komunitas, organisasi, dan pembuat kebijakan.
Pendekatan ini juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung. Dengan begitu, perilaku berkelanjutan tidak hanya bergantung pada niat pribadi, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan dan sistem yang lebih luas.
Penerapan pemasaran sosial berkelanjutan membutuhkan dukungan berbagai pihak. Dalam kebijakan publik, perhatian dapat diarahkan pada pendanaan riset dan inovasi, penyediaan fasilitas ramah lingkungan, serta penguatan pengelolaan sisa makanan di hotel, restoran, katering, dan usaha makanan lainnya.
Pelaku usaha juga dapat mengambil peran melalui penyediaan pilihan yang lebih ramah lingkungan. Di sektor kuliner, misalnya, pilihan porsi yang sesuai kebutuhan, penggunaan kemasan guna ulang, dan pemanfaatan teknologi digital dapat membantu mengurangi pemborosan.
Komunikasi kepada konsumen pun perlu diarahkan secara positif, seperti mendorong pengunjung mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah dipilih.
Sementara itu, perguruan tinggi memiliki peran melalui pengembangan kurikulum berkelanjutan, pemanfaatan kampus sebagai ruang praktik perubahan perilaku, serta perluasan program pengabdian kepada masyarakat.
IBI Kesatuan menyatakan telah memasukkan mata kuliah Pemasaran Sosial dalam kurikulum Program Studi Magister Manajemen. Kampus tersebut juga menjalankan pendampingan masyarakat dalam pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi melalui budidaya maggot, yang didukung teknologi tepat guna serta penguatan tata kelola dan pemasaran digital.
Klaim bahwa IBI Kesatuan merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan satu-satunya di Bogor yang menawarkan mata kuliah tersebut perlu dikonfirmasi kepada pihak kampus dan dibandingkan dengan kurikulum perguruan tinggi lain sebelum dicantumkan sebagai fakta definitif.
Editor: Ifan Jafar Siddik