Didik menilai Agus Widjojo termasuk figur penting dalam masa transisi Reformasi, terutama dalam mendorong berakhirnya praktik Dwifungsi ABRI. Menurutnya, Agus berpandangan militer yang kuat justru lahir dari sistem demokrasi, bukan dari keterlibatan dalam politik praktis.
“Bagi beliau, kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Militer adalah alat negara untuk pertahanan, bukan penjaga kekuasaan,” ujarnya.
Pandangan tersebut, lanjut Didik, memberi kontribusi besar terhadap pembentukan relasi sipil-militer yang lebih sehat pada era Reformasi.
Didik juga menempatkan Agus dalam jajaran perwira senior yang memiliki keluasan wawasan sosial, politik, dan strategis. Ia menyebut sejumlah tokoh lain yang dikenal sebagai perwira intelektual, seperti almarhum Jenderal TNI Sajidiman Suryohadiprodjo, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, ZA Maulani, hingga Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun demikian, ia menilai figur dengan kedalaman intelektual dan konsistensi gagasan seperti Agus Widjojo kini semakin jarang ditemukan di kalangan perwira aktif.
“Beliau memiliki kombinasi pengalaman militer, kedalaman pemikiran strategis, dan komitmen demokrasi yang tidak mudah tergantikan,” kata Didik.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
