BOGOR, iNewsBogor.id - Di era digital, mencari pasangan tak lagi sebatas perkenalan tatap muka. Aplikasi pencarian jodoh menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan peluang tak terbatas. Namun di balik layar ponsel, muncul fenomena yang mengusik nurani. Sebagian orang memalsukan status pernikahan demi membuka relasi baru.
Ada yang mengaku lajang padahal masih bersuami atau beristri. Ada pula yang mengklaim janda atau duda karena pasangan telah meninggal, padahal faktanya tidak demikian. Di mata sebagian orang, itu mungkin sekadar “cara” untuk memperluas pergaulan. Tetapi dalam perspektif agama, kebohongan sekecil apa pun bukanlah perkara ringan.
Kejujuran adalah Cermin Iman
Islam menempatkan kejujuran sebagai fondasi akhlak. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa ucapan yang benar bukan hanya tuntutan sosial, tetapi perintah langsung dari Allah. Kebohongan, termasuk memalsukan status pernikahan, bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan penyimpangan dari perintah Ilahi.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kebohongan bukan hanya berdampak di dunia, tetapi juga di akhirat.
Pernikahan Adalah Amanah, Bukan Status yang Bisa Disembunyikan
Dalam Islam, pernikahan adalah akad yang sakral dan penuh tanggung jawab. Negara pun mengaturnya dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
Menyembunyikan status pernikahan demi membangun relasi lain berarti mengkhianati amanah tersebut.
Al-Qur’an bahkan secara tegas melarang mendekati zina:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ulama menjelaskan bahwa “mendekati” dalam ayat ini mencakup segala pintu yang membuka peluang pada perbuatan tersebut—termasuk komunikasi intens yang dibangun di atas kebohongan dan niat tersembunyi.
Dosa Digital Tetap Tercatat
Sebagian orang mungkin merasa aman karena interaksi terjadi di ruang privat aplikasi. Namun dalam keyakinan Islam, tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi.
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid: 4)
Jejak digital bisa saja dihapus, tetapi catatan amal tidak pernah terlewat. Dalam konsep keimanan, setiap kata yang diketik dan setiap niat yang tersembunyi tetap dalam pengawasan Allah SWT.
Persoalan ini tidak berhenti pada dalil normatif. Ketika status palsu terungkap, yang rusak bukan hanya reputasi, tetapi juga hati dan kepercayaan.
Pasangan sah bisa merasa dikhianati. Pihak yang merasa tertipu bisa mengalami trauma emosional. Anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan kerja dapat ikut terdampak.
Apa yang bermula dari “sekadar coba-coba” di aplikasi kencan, bisa berujung pada retaknya rumah tangga.
Teknologi tidak pernah salah. Aplikasi hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah integritas penggunanya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, mungkin tantangan terbesar umat hari ini bukan sekadar menjaga pandangan di dunia nyata, tetapi juga menjaga kejujuran di dunia maya.
Status di aplikasi bisa diubah dalam hitungan detik. Namun status sebagai suami atau istri adalah amanah yang tak boleh dipermainkan.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan—melainkan iman.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
