BOGOR, iNewsBogor.id – Banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Cigudeg pada Sabtu (18/4/2026) sore menyebabkan luapan sungai dan merendam sedikitnya enam desa.
Bencana ini menimbulkan kerusakan infrastruktur, kerugian ekonomi, serta memaksa warga berjuang memulihkan kondisi secara mandiri.
Data di lapangan menunjukkan, dampak banjir tersebar di sejumlah wilayah dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Di Desa Cintamanik, sekitar 50 rumah terdampak. Puluhan ternak hanyut, satu jembatan ambruk, serta fasilitas pendidikan terendam hingga setengah meter.
Sementara di Desa Argapura, satu jembatan dilaporkan hilang dan satu lainnya terancam ambruk. Sedikitnya 150 rumah mengalami kerusakan, disertai hilangnya sejumlah hewan ternak milik warga.
Kerusakan lebih luas terjadi di Desa Bangunjaya, dengan 235 rumah terdampak. Tujuh jembatan rusak di aliran Sungai Cimatuk, sementara delapan akses antar kampung tertutup akibat material banjir.
Di wilayah lain seperti Desa Rengasjajar, puluhan rumah rusak akibat luapan Sungai Cidangder. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Batujajar, di mana puluhan rumah dilaporkan roboh.
Adapun di Desa Tegallega, sekitar 80 rumah terdampak, sejumlah ternak hanyut, serta beberapa titik jalan mengalami longsor yang menghambat mobilitas warga.
Sejak Minggu (19/4/2026) pagi, warga bersama aparat gabungan bergerak melakukan penanganan darurat. Proses pembersihan lumpur, pembukaan akses jalan, hingga evakuasi ternak terus dilakukan secara gotong royong.
Alat berat dikerahkan untuk membuka jalur yang tertutup longsor, terutama di wilayah dengan akses vital antar kampung. Meski terbatas, upaya ini menjadi langkah awal untuk memulihkan aktivitas masyarakat.
Sejumlah pihak juga mulai turun langsung ke lokasi, termasuk anggota DPRD Kabupaten Bogor, Siti Aisyah, yang menyerap aspirasi warga terdampak.
“Kami turun langsung untuk melihat kondisi warga dan memastikan aspirasi mereka bisa segera ditindaklanjuti. Penanganan harus cepat, terutama untuk infrastruktur dan kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Siti Aisyah.
Di tengah kondisi pascabencana, warga Cigudeg menunjukkan ketangguhan. Aktivitas sehari-hari perlahan mulai kembali berjalan meski dalam keterbatasan.
Anak-anak tetap beraktivitas di sekitar lingkungan rumah dan sekolah yang masih dipenuhi lumpur. Para orang tua membersihkan sisa material banjir, memperbaiki rumah, serta menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.
Seorang warga Desa Bangunjaya, Rahmat (45), mengaku banjir kali ini datang sangat cepat.
“Air naik tiba-tiba, kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Sekarang yang penting bisa bersih-bersih dulu dan memperbaiki rumah seadanya,” ujarnya.
Sejumlah pihak, termasuk unsur pemerintah dan perwakilan rakyat, telah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi warga. Aspirasi masyarakat pun mulai dihimpun, terutama terkait kebutuhan bantuan darurat dan perbaikan infrastruktur.
Siti Aisyah menegaskan perlunya langkah jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang.
“Ini bukan kejadian pertama. Perlu ada penanganan serius seperti normalisasi sungai dan perbaikan drainase agar ke depan dampaknya bisa diminimalisir,” tegasnya.
Banjir di Cigudeg dinilai memerlukan perhatian lintas sektor, termasuk kolaborasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait.
Warga berharap pemerintah daerah dapat segera mempercepat proses pemulihan, baik melalui bantuan logistik maupun pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Bagi masyarakat Cigudeg, bencana ini menjadi ujian sekaligus pengingat pentingnya kesiapsiagaan. Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong tetap menjadi fondasi utama untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
