BOGOR, iNewsBogor.id - Bagi sebagian orang tua, menitipkan anak di pesantren bukan sekadar soal pendidikan. Ada rasa rindu, khawatir, sekaligus keinginan untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak selama jauh dari rumah.
Di sisi lain, bagi para musyrif dan pengasuh, mendampingi puluhan hingga ratusan santri setiap hari bukanlah pekerjaan sederhana. Mereka harus memastikan ibadah berjalan, hafalan bertambah, kedisiplinan terjaga, kesehatan terpantau, hingga berbagai kebutuhan santri dapat ditangani dengan baik.
Di tengah kebutuhan tersebut, teknologi mulai mengambil peran baru dalam kehidupan pesantren.Hal inilah yang mendorong KAHF Islamic Boarding School (KIBS) memanfaatkan SAKHA Platform, sebuah platform manajemen boarding school berbasis teknologi, untuk membangun tata kelola pendidikan pesantren yang lebih terintegrasi, terukur, dan transparan.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat transformasi digital di lingkungan pendidikan Islam, termasuk dorongan digitalisasi tata kelola pesantren.
KAHF Islamic Boarding School sendiri membawa nilai pendidikan yang menekankan empat hal utama: bertakwa, berakhlak, cerdas, dan anti-bullying. Digitalisasi kemudian ditempatkan bukan sebagai pengganti peran manusia dalam mendidik santri, melainkan sebagai alat untuk membantu guru, musyrif, pengasuh, yayasan, dan orang tua bekerja lebih efektif.
Pimpinan KAHF Islamic Boarding School, Ustadz Harun Tofik mengatakan penggunaan teknologi tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik kepada santri dan orang tua.
“Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan di KAHF IBS, kami bekerja sama dengan SAKHA Platform untuk meningkatkan pengawasan kinerja SDM, musyrif, dan pengasuh serta pemantauan perkembangan santri secara real-time,” ungkapnya.
Dari buku hafalan ke layar smartphone
Perubahan paling sederhana justru dirasakan oleh orang-orang yang setiap hari berinteraksi langsung dengan santri. Salah satunya musyrif KAHF Islamic Boarding School Ustadz Arifin Ahmad. Sebelum menggunakan sistem digital, pencatatan hafalan santri masih dilakukan menggunakan buku.
Proses tersebut membutuhkan waktu, terutama ketika data hafalan harus direkap dan disampaikan kembali kepada orang tua.Kini, proses tersebut dapat dilakukan langsung ketika halaqah berlangsung.
“Dulu mencatat hafalan santri dilakukan secara manual dengan buku hafalan, lalu laporannya baru bisa kami serahkan kepada wali santri dengan waktu yang lama. Tapi semenjak menggunakan SAKHA Platform masalah itu teratasi. Ketika halaqah dimulai saya cukup membuka smartphone lalu menginput hafalan yang disetorkan santri. Cepat, ringkas, tanpa kertas,” tutur Ustadz Arifin.
Bagi seorang musyrif, perubahan tersebut bukan sekadar berpindah dari buku ke smartphone. Waktu yang sebelumnya tersita untuk pekerjaan administratif dapat lebih banyak digunakan untuk mendampingi dan berinteraksi dengan santri.
Transformasi digital juga membawa perubahan dari sisi orang tua.Selama anak berada di pesantren, orang tua biasanya harus menunggu laporan atau bertanya kepada pihak pesantren untuk mengetahui perkembangan anak.
Melalui sistem SAKHA, informasi mengenai perkembangan santri dapat diakses melalui portal wali santri. Orang tua dapat melihat berbagai capaian anak, termasuk perkembangan hafalan dan aktivitas ibadah yang telah dicatat oleh pihak pesantren.
Salah satu wali santri KAHF IBS mengaku merasakan manfaat tersebut secara langsung. “Kabar gembira sekali karena KAHF Islamic Boarding School sudah memakai aplikasi SAKHA. Memudahkan kami orang tua di rumah bisa memantau serta mengecek progres kegiatan anak kami, Sultan, hanya melalui HP,” tuturnya.
Ia bahkan dapat melihat perkembangan hafalan anaknya secara lebih terperinci, termasuk capaian hafalan Al-Qur’an, hafalan matan, serta amaliyah sunnah yang telah dikerjakan.
“Alhamdulillah, aplikasi SAKHA ini benar-benar membantu sekali,” tambahnya.
Bagi orang tua, informasi tersebut bukan hanya angka atau laporan digital. Di balik satu halaman hafalan yang bertambah, terdapat proses belajar, perjuangan menghafal, kedisiplinan, dan pendampingan yang dilakukan setiap hari.
Teknologi juga menyentuh hal-hal yang sering luput dari perhatian. Digitalisasi di KAHF IBS tidak berhenti pada akademik dan hafalan. Pengelolaan sarana-prasarana hingga kesehatan santri juga mulai terintegrasi dalam sistem.
Perwakilan Tim Sarana dan Prasarana KIBS Teguh mengatakan modul pengaduan sarpras membuat laporan kerusakan dapat dipantau berdasarkan tingkat prioritas.
“Dengan adanya modul pengaduan sarpras di SAKHA Platform, setiap laporan kerusakan fasilitas asrama maupun kelas langsung terpantau skala prioritasnya. Proses penanganan jadi lebih cepat, terstruktur, dan transparan, sehingga fasilitas belajar dan tempat tinggal santri selalu dalam kondisi optimal,” jelasnya.
Hal serupa dirasakan oleh tim kesehatan pesantren. Tim Kesehatan KIBS Ns. Achmad Saroni menilai sistem rekam medis digital membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi santri dengan lebih rapi dan mudah diakses ketika dibutuhkan.
Menurutnya, pemantauan kesehatan juga dapat dilakukan lebih luas, tidak hanya ketika seorang santri sakit.
“Hadirnya modul kesehatan pada aplikasi SAKHA Boarding memberikan dampak yang sangat positif dan membawa perubahan besar dalam pengelolaan kesehatan di lingkungan pesantren,” ujarnya.
Selain rekam medis, sistem juga mendukung pemantauan kebersihan asrama, lingkungan, hingga dapur pesantren. "Tindakan pencegahan penyakit bisa kami lakukan lebih awal,” tambahnya.
SAKHA Platform dirancang sebagai sistem manajemen terintegrasi berbasis cloud yang membantu pesantren mengelola berbagai aktivitas boarding school dalam satu ekosistem.Mulai dari pembinaan ibadah dan karakter santri, hafalan, kedisiplinan, aktivitas guru dan musyrif, kesehatan, sarana-prasarana, hingga komunikasi dengan wali santri dapat dikelola secara lebih terstruktur.
Namun, bagi KAHF IBS, esensi dari transformasi tersebut bukanlah sekadar memiliki aplikasi baru. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat membantu manusia menjalankan amanah pendidikan dengan lebih baik.
Musyrif dapat lebih fokus mendampingi santri. Tim kesehatan dapat lebih cepat melihat kondisi santri. Tim sarpras dapat merespons kebutuhan fasilitas dengan lebih terstruktur.
Yayasan memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai operasional pesantren. Sementara orang tua mendapatkan jendela untuk melihat perkembangan anaknya meski berada jauh dari pesantren.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
