“Saya menilainya positif. Pasar itu sebenarnya tidak ingin pernyataan dari seorang pejabat, apalagi Menteri Keuangan, yang kontroversi dengan sesama pejabat ditunjukkan ke publik,” jelasnya.
Dia menambahkan, seorang pejabat dapat memiliki argumentasi yang dinilai benar, tetapi cara penyampaian yang berpotensi memunculkan polemik dapat berdampak terhadap persepsi pasar. Karena itu, stabilitas komunikasi antarpemerintah dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pelaku ekonomi.
Soroti Arah Kebijakan Ekonomi
Di sisi lain, Prof Edi mengapresiasi sejumlah arah kebijakan Presiden Prabowo yang dinilainya mulai mendorong perubahan paradigma pembangunan ekonomi.
Dia menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari indikator makro. Pertumbuhan juga perlu memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pak Prabowo sudah ingin mengubah bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Menurut Prof. Edi, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini belum sepenuhnya memberikan dampak yang merata. Kontribusi masyarakat lapisan bawah terhadap pertumbuhan ekonomi disebut masih relatif kecil dibandingkan kelompok menengah atas.
“Kontribusi dari bawah itu hanya di bawah 5 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi sebagus apa pun tidak berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
