get app
inews
Aa Text
Read Next : Indonesia Tegaskan Komitmen Penguatan Teknologi Iklim di COP30 Brasil

Paradoks Hilirisasi Nikel dan Ancaman Limbah Batre

Jum'at, 18 Juli 2025 | 19:02 WIB
header img
Dr. Rimun Wibowo, Dosen Ilmu Lingkungan dan Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Ibn Khaldun Bogor. (Foto : Istimewa)

Karena itu, perlu dirumuskan kebijakan cadangan strategis untuk logam-logam kritis, agar Indonesia tetap relevan dalam ekosistem energi global.

Menata Ulang Arah Transisi

Transisi energi sejati bukan sekadar mengganti bahan bakar, tapi juga menata ulang sistem produksi, konsumsi, dan pengelolaan sumber daya. Negara-negara seperti Jepang dan Uni Eropa telah membangun sistem sirkular untuk baterai, termasuk teknologi daur ulang dan sistem pengumpulan nasional.Indonesia belum terlambat. Namun, waktu untuk pasif sudah habis. Pemerintah perlu menyusun peta jalan pengelolaan limbah baterai, memperkuat teknologi daur ulang, serta membangun sistem insentif dan edukasi publik.

Lebih jauh, evaluasi menyeluruh atas proyek hilirisasi nikel perlu dilakukan. Keuntungan jangka pendek tidak boleh mengorbankan keberlanjutan jangka panjang.

Energi masa depan yang benar-benar hijau bukan hanya bersih saat digunakan, tapi juga adil dalam dampaknya dan bijak dalam perencanaannya. Jangan sampai masa depan kita dibangun di atas kerusakan hari ini—terlebih tanpa cadangan untuk hari esok.

Note : * Penulis merupakan Dosen Ilmu Lingkungan dan Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Ibn Khaldun Bogor

Editor : Furqon Munawar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut