Angklung Srikandi Tebar Harmoni dari HUT LPDS hingga Kota Tua Jakarta, Gaungkan Pelestarian Budaya
Perpaduan angklung dengan instrumen musik modern menciptakan harmonisasi yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Sejumlah pengunjung terlihat larut menikmati pertunjukan, ikut bernyanyi, bertepuk tangan, hingga mengabadikan momen tersebut melalui telepon genggam mereka.
Atmosfer hangat yang tercipta menjadikan kawasan Kota Tua dipenuhi semangat kebersamaan. Musik tradisional yang berpadu dengan aransemen modern membuktikan bahwa budaya Indonesia mampu diterima lintas generasi dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Perwakilan Angklung Srikandi, Indria Prawitasari, mengatakan penampilan di dua lokasi berbeda dalam satu hari menjadi pengalaman berharga sekaligus bentuk nyata komitmen kelompoknya dalam melestarikan budaya Nusantara.
"Kami merasa sangat bersyukur dapat dipercaya tampil dalam dua kegiatan yang memiliki karakter berbeda. Di LPDS kami menjadi bagian dari forum yang menjunjung tinggi nilai literasi dan jurnalisme, sementara di Kota Tua kami bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kebahagiaan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui angklung," ujar Indria.
Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas menjadi salah satu cara efektif untuk memperluas jangkauan seni tradisional kepada masyarakat.
"Angklung bukan hanya warisan budaya yang dimainkan di panggung formal, tetapi juga dapat hadir di ruang-ruang publik, menyatukan berbagai kalangan melalui musik. Kami berharap semakin banyak kolaborasi seperti ini agar generasi muda semakin mencintai budaya bangsa," katanya.
Penampilan Angklung Srikandi di HUT LPDS dan Kota Tua Jakarta menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui seremoni, tetapi juga lewat kolaborasi, kreativitas, dan kedekatan dengan masyarakat. Melalui nada-nada angklung yang berpadu dengan berbagai genre musik, Angklung Srikandi terus menggaungkan pesan bahwa budaya Indonesia akan tetap hidup ketika dimainkan, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor: Ifan Jafar Siddik