Konflik Saudi-Houthi Memanas, Pengamat: Indonesia Sebaiknya Tunda Mengirim Jamaah Umrah
JAKARTA, iNewsBogor.id – Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Semenanjung Arab, khususnya konfrontasi bersenjata antara koalisi Arab Saudi dengan faksi Houthi dari Yaman terus memanas. Pengamat Ekonomi Syariah dari Universitas Paramadina, Imas Damayanti, menilai konflik tersebut tak hanya mengganggu keamanan melainkan menjadi disruptive variable (variabel pengganggu) dalam lanskap ekonomi global. Untuk itu ia menyarankan Pemerintah Indonesia untuk menghentikan atau menunda sementara keberangkatan jamaah umrah ke Arab Saudi
Imas menjelaskan, konflik yang terjadi antara Saudi-Houthi berdampak pada sektor penyelenggaraan ibadah umrah di Arab Saudi, isu keamanan dan juga ketidaknyamanan dalam beribadah pastinya akan membayangi jamaah umrah. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, Indonesia memegang peranan krusial dalam ekosistem umrah dunia. Dari sudut pandang ekonomi syariah, fenomena ini tidak hanya menuntut analisis makroekonomi terkait kerugian materiil, tetapi juga memerlukan dekonstruksi fiqh al-awlawiyyat (fikih prioritas) berbasis kerangka Maqshid Syariah guna merumuskan kebijakan kemaslahatan publik yang mitigatif.
"Sebaiknya Pemerintah Indonesia tunda keberangkatan umrah bagi jamaah kita ke Saudi sampai situasi konflik mereda," kata Imas sebagaimana dilansir di Indonesia Alyoum, Selasa (13/10/2026).
Imas memahami bahwa dalam desain Visi Saudi 2030, sektor pariwisata religi (haji dan umrah) diproyeksikan sebagai pilar utama dalam diversifikasi ekonomi non-migas Saudi. Untuk itu, kata Imas, ketiadaan arus masuk jamaah umrah asal Indonesia tentunya akan mengganggu keamanan yang memicu guncangan suplai dan permintaan (supply-demand shock) yang signifikan terhadap neraca pembayaran eksternal Kerajaan Saudi. Di sisi Indonesia, volume keberangkatan jamaah umrah juga dinilai sangat memengaruhi keberlangsungan ekosistem bisnis perjalanan umrah di dalam negeri.
Editor: Ifan Jafar Siddik