Perang AS–Israel vs Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonom Ingatkan Risiko Tekanan Berat pada APBN
BOGOR, iNewsBogor.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu dampak ekonomi global yang luas, termasuk bagi Indonesia. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi terganggunya jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Jika jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, tensi geopolitik diperkirakan akan meningkat tajam dan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Hakam Naja, menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan karena harga minyak global saat ini sudah menyentuh sekitar 92 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2020.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menekan fiskal nasional karena asumsi harga minyak dalam APBN Indonesia 2026dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
“Setiap kenaikan satu dolar AS per barel dapat menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel, defisit terhadap PDB bisa mendekati 4 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (8/3/2026).
Angka tersebut berpotensi melampaui batas defisit 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Editor : Ifan Jafar Siddik