Menurutnya, generasi muda harus memahami golok sebagai simbol kedaulatan, bukan simbol kekerasan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi duta budaya yang memperkenalkan warisan lokal ke tingkat internasional.
Sementara itu, Dekan FISIB Universitas Pakuan, Muslim, menjelaskan bahwa pelestarian budaya perlu pendekatan ilmiah melalui rekonstruksi dan dekonstruksi pengetahuan.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin menegaskan kembali bahwa golok adalah simbol kedaulatan dan kearifan lokal, serta membuang stigma negatif yang mengaitkannya dengan kekerasan.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim saat mengamati hamparan koleksi golok di salah satu stand pameran dalam Saresehan Golok Nusantara 2026 yang di gelar di Graha Siliwangi, Universitas Pakuan, Bogor. (Foto : iNewsBogor.id/FM)
"Soft-Launching Siliwangi Digital Collection menjadi langkah nyata digitalisasi pengetahuan agar akses terhadap nilai budaya kita semakin terbuka,” jelasnya.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
